I Made Sudiana

Arsip untuk ‘Sastrawan Manado & Karyanya’ Kategori

Kamajaya Al Katuuk

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:27 am

1) Latar Belakang Keluarga

Kamajaya Al Katuuk lahir di Bandung tanggal 14 Maret 1960. Ayahnya adalah Wenas A. Katuuk, seorang anggota TNI yang berasal dari Tonsea, Minahasa Utara. Ibunya, Ibin Heryani berasal dari Bandung.

Latar belakang kehidupan keluarga yang silang suku dan bahkan agama tersebut yang melatarbelakangi sikap nasionalisme dan moderatnya. Hal itu pula yang mengakibatkan di dalam kehidupannya dorongan untuk mendukung persaudaraan antarsesama manusia melengkapi atau bahkan melebihi bentuk persaudaraan atas dasar apa saja.

Kamajaya menikah dengan Novetia Arestiawati Sambul di tahun 1984. Dari pernikahan tersebut telah lahir dua orang putra, yakni: Praba Kawistara Katuuk dan Rayanmada Kinasihan Katuuk.

2) Latar Belakang Pendidikan

Sekolah dasar ditamatkan Kamajaya di SD Negeri Bojong Soang, sebuah sekolah yang berada di daerah selatan Bandung. Tetapi beberapa tahun, dari kelas 3 sampai kelas 5 ia pernah bersekolah di sebuah SD Katolik di Girian, Bitung. SMP ditempuhnya di SMP Negeri Dayeuhkolot, kemudian ia melanjutkan ke SPG Negeri 1 Bandung. Pendidikan di perguruan tingginya diselesaikan di IKIP Negeri Manado di Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tugas akhir, skripsi, ia mengambil kajian drama sebagai media pendidikan nonformal. Sedangkan S-2 ditempuh di Universitas Gajah Mada dalam bidang Kajian Amerika. Pada saat ini Kamajaya tengah menyelesaikan studi doktoral, S-3 di Universitas Negeri Jakarta dalam program Manajemen Pendidikan.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Kamajaya memulai kariernya di dunia jurnalistik. Awalnya ia membantu Husen Mullahele yang menjadi perwakilan Memorandum Surabaya sampai awal tahun 80-an. Setelah itu ia bergabung dengan Majalah Berita Mingguan Fokus, Jakarta perwakilan Manado. Tetapi sejak majalah tersebut diberangus karena menurunkan berita “100 Orang Terkaya Indonesia” yang menyangkut para penguasa Orde Baru, ia ikut terberangus juga.

Sejak tahun 1984 Kamajaya diangkat menjadi dosen di IKIP Manado, sekarang menjadi Universitas Negeri Manado (UNIMA). Sambil menjadi dosen Kamajaya tetap berkiprah di media, terutama di media daerah (Sulawesi Utara). Kiprahnya di media lokal dimulai dari menjadi redaktur Manado Post, kemudian menjadi Redaktur Pelaksana Wibawa, dan selanjutnya ikut juga membina beberapa acara di media elektronik, terutama di Televisi Manado (TVM). Ia tampil sepekan sekali di acara “Coffee Morning (2003—2004)”.

Belakangan Kamajaya aktif sebagai pegiat LSM. Ia pernah mendirikan Yayasan Serat, yang kemudian diteruskan oleh Reiner Emyot Ointoe. Ia juga pernah menjadi penasihat LBH Manado, semasa kepemimpinan Frangky Wongkar. Kamajaya kemudian mendirikan Forum Basudara yang mendorong setiap orang/kelompok yang bertikai mau menyelesaikan masalahnya secara damai dengan konsep “mengagendakan penyelesaian bersama”.

Sejak Pemilu 2004 Kamajaya terpilih menjadi salah seorang anggota KPU Manado.

4) Latar Belakang Kesastraan

Bakat bersastra Kamajaya telah muncul sejak masa sekolah dasar, ia suka menulis, mencorat-coret, membuat sajak. Tetapi kemudian ia menyadari bahwa dirinya tertarik dengan dunia sastra setelah menginjak bangku SMP. Kegemarannya dalam dunia sastra terutama karena pengaruh gurunya yang seorang sastrawan Sunda, Odji Setiadi. Minat tersebut dilanjutkan dengan turut di berbagai kegiatan kesastraan di Bandung. Ia mengikuti berbagai ceramah dan lomba, terutama baca puisi.

Kegandrungan terhadap dunia sastra tersebut dilanjutkan secara lebih serius ketika Kamajaya bertemu dengan Husen Mulahele yang bertindak sebagai mentor dan sahabatnya di Manado. Semasa berkesenian dengan Husen Mulahele, Kamajaya menerbitkan karya kumpulan sajaknya yang pertama, berjudul Harmonika.

Teladan yang Kamajaya ambil dari Husen Mulahele di dalam berkesenian adalah membina kepekaan ‘bermanusia’, terutama di dalam hal memberi diri, melayani orang lain. Media yang paling tepat adalah membina kelompok kesenian. Itulah sebabnya Kamajaya kemudian ikut membina Teater Remaja Manado (1980-an). Saat itu aktivitas yang dibina tidak hanya sastra dan teater saja, melainkan juga jenis kesenian lain, seperti tarian dan nyanyian. Kelompok tersebut kemudian melahirkan Sanggar Muara Alit, yang lebih memusatkan diri pada kegiatan sastra dan teater. Di sanggar tersebut juga sempat bergabung, yang kemudian lebih terkenal sebagai pelawak, Yusuf Magulili (Om Kale) dan Tamaka Kakunsi (Bu Tahanusang). Di kelompok tersebut para aktivisnya adalah Jamila Lihawa, Darmawaty Dareho, Tuty Basmul, Wenny Liputo, dan EriksonTegila. Kedua nama terakhir adalah pentolan dari Teater SGM (yang dibidani Johny Rondonuwu). Sedangkan binaannya yang kemudian menjadi seniman serius adalah Iverdixon Tinungki.

5) Karya-karya Kamajaya Al Katuuk

  1. Puisi

(1) Harmonika (1980)

(2) Bukit Kleak Senja (Antologi Penyair Kampus, 1991)

(3) Riak Utara (1990)

(4) Ziarah Langit

  1. Cerpen

Beberapa cerpen karya Kamajaya pernah dimuat di Anita Cemerlang dan Majalah Kartini.

  1. Drama

(1) “Si Tiwo” (karya ini pernah dipentaskan di Taman Budaya, 1983)

(2) Beberapa naskah serial TV Manado

  1. Karya-karya yang pernah disutradarai

(1) “Kasir Kita” (Arifin C. Noer); sekaligus Kamajaya sebagai pemeran tunggalnya

(2) Raksasa Pemangsa (Iverdixon Tinungki)

  1. Karya-karya Nonfiksi

(1) Men and Wealth in Steinbeck’s (Thesis)

(2) Lintasan Amerika dalam Sastra (Panduan Kuliah, 1992)

(3) Pelatihan Dasar Penulisan Naskah Sinetron (Pengabdian Masyarakat, 1992)

(4) Tikaian Antara Kelampauan dan Kekinian dalam Belenggu

(5) Punahnya Tradisi Tutur di Minahasa (Penelitian, 1999)

(6) Pengembangan Seni dan Budaya di Kota Manado; Antisipasi Manado sebagai Kota Pantai (Bappeda Manado, 1999)

(7) Punahnya Tradisi Tutur di Sulawesi Utara (Penelitian, 2000)

(8) Metode Penelitian Teks; Teori dan Praktik (Panduan Kuliah, 2000)

Beberapa artikelnya pernah dimuat di Kompas, Media Indonesia, Republika, Horison, dan Bisnis Indonesia.

Merdeka Gedoan

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:26 am

1) Latar Belakang Keluarga

Merdeka Gedoan lahir di Pulutan, Talaud, 1 Januari 1949. Ia terlahir dari keluarga petani. Ayahnya Tadius Gedoan dan ibunya Johana Mailantang, keduanya almarhum. Masa kecilnya dihabiskan di kampung halaman, Talaud, sampai tamat SMP. Merdeka mulai merantau memasuki masa sekolah lanjutan tingkat atas di Tahuna, selanjutnya bekerja sampai berkeluarga ia tetap tinggal di Manado, tempatnnya merantau. Ia pulang ke kampung hanya untuk bertemu dengan keluarga, pada acara-acara keluarga saja.

Merdeka Gedoan menikahi Anna B. Tijow pada tanggal 6 November 1971. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak. Anak pertama putra, Heince Gedoan lahir tanggal 25 Maret 1973 dan anak kedua putri, Lidya Gedoan lahir tanggal 12 November 1974.

2) Latar Belakang Pendidikan

Medeka Gedoan menjalani masa SD dan SMP di Talaud. Ia tamat SR Masehi Pulutan, Talaud tahun 1961 dan tamat SMP Negeri Beo, Talaud tahun 1964. Selanjutnya ia melanjutkan sekolah ke SPG Negeri Tahuna di Kabupaten Sangihe. Ia menamatkan sekolah SPG-nya pada tahun 1967. Setamat SPG ia melanjutkan di Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP). Jurusan yang diambil di PGSLP, jurusan seni musik. Pendidikannya di PGSLP diselesaikan pada tahun 1969. Tahun 1986 ia memperoleh gelar kesarjanaan (S-1) dari Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas sam Ratulangi, Manado.

Pendidikan nonformal bidang kesastraan dijalani ketika ia menjadi guru bahasa Indonesia di SMP Kartika Chandra Kirana Manado, sejak tahun 1970. Ia juga sering mengikuti penataran dan pelatihan bidang seni sastra yang dilaksanakan oleh Kanwil Depdikbud Provinsi Sulawesi Utara dan Direktorat Kesenian baik di tinggkat daerah maupun tingkat pusat.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Setamat SPG Merdeka Gedoan melamar menjadi guru. Ia diangkat menjadi guru dengan status PNS sejak 1 Juni 1968. Tugas kerja pertamanya di Kabupaten Sangihe Talaud.

Sejak September 1970 ia dipindahkan ke Kotamadya Manado, masih sebagai guru SD.

Tahun 1973 ia mendapat tugas baru di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah Manado Tengah. Tugasnya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ini berlangsung sejak Mei 1973 sampai Februari 1976. Sejak Maret 1976 sampai dengan Februari 1981 ia dipercayakan sebagai Penilik Kebudayaan Kandep Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Manado Tengah. Maret 1981 sampai dengan April 1988 ia menjadi Penilik Kebudayaan Kandep Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Manado Selatan. Kemudian ia diangkat menjadi Kepala Seksi Bina Program pada Bidang Kesenian Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, sejak Mei 1988 sampai dengan September 1991. Berikutnya ia dipercaya sebagai Pembantu Pimpinan paada Seksi Kebudayaan Kandep Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Manado, sejak Oktober 1991 sampai September 1993. Jabatan di diembannya setelah itu adalah Kepala Seksi Kebudayaan pada Kandep Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Manado sejak Oktober 1993 sampai dengan 6 Februari 2001. Jabatan terakhirnya yaitu Kasubdin Program pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Manado, sejak 7 Februari 2001 sampai sekarang.

Selain pekerjaan formal Merdeka Gedoan juga aktif di luar kantor. Tercatat beberapa kegiatan ia jalani sebagai guru, khususnya bidang bahasa dan kesenian.

Sejak tahun 1970 sampai dengan tahun 1974 ia mengajar mata pelajaran Agama Kristen, Bahasa Indonesia, dan Kesenian di SMP Kartika Chandra Kirana Manado. Tahun 1974 sampai tahun 1976 ia mengajar mata pelajaran kesenian di SMP Kristen Eben Haezar Manado. Tahun 1978 sampai tahun 1981 ia mengajar mata pelajaran kesenian di SMA Pioner Manado.

Selain menjadi guru di sekolah Merdeka Gedoan juga sebagai pembina Pramuka di lingkungan Kwarcab Manado sejak tahun 1970 sampai dengan 1988.

Dalam bidang seni tahun 1976 sampai dengan 1991 ia menjadi pelatih/instruktur Koor, Bintang Vokalia, Puisi, dan drama di SD, SMP, SMA/SMK di Provinsi Sulawesi Utara. Ia juga pernah sebagai guru pengajar seni musik di Sekolah Menengah Karawitan Manado pada tahun 1988 sampai tahun 1990.

Jabatan dalam organisasi yang pernah ia alami sebagai berikut.

Sekretaris Umum Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Kotamadya Manado tahun 1978 sampai 1989. Sekretaris Umum Dewan Kesenian Daerah (DKD) Provinsi Sulawesi Sulawesi Utara tahun 1996 sampai 1999. Ketua Umum Dewan Kesenian Daerah (DKD) Provinsi Sulawesi Utara tahun 1999 sampai 2003. Jabatan terakhirnya adalah Ketua Hrian dewan Kesenian daerah (DKD) Provinsi Sulawesi Utara tahun 2003 sampai sekarang.

4) Latar Belakang Kesastraan

Merdeka Gedoan mengenal sastra sejak SD. Ia sering mendengarkan cerita berupa dongeng dan pantun daerah dari kakek dan neneknya. Kegemaran mendengarkan dongeng dan pantun daerah ini menyebabkan ia juga gemar mendongeng dan menyanyikan pantun serta bermain drama ketika masa sekolah dasar itu.

Selain kakek dan neneknya ia juga mempunyai tokoh idola yang selalu memberikan motivasi baginya untuk bersastra. Ketika bersekolah di SMP, guru sastra daerahnya, B. Winowoda dan M. Sumolang selalu menjadi panutannya. Demikian pula ketika bersekolah di SPG, guru kesenian E. Tanimu dan Muhaling adalah orang-orang yang membangkitkan inspirasinya untuk berkesenian. Selama berkesenian yang memberikan inspirasi dalam bekesenian menurutnya adalah Putu Wijaya dan Kasim Ahmad.

5) Karya-karya Merdeka Gedoan

a. Puisi

“Kepidang” tahun 1990

b. Drama

(1) “Lingkambeme”

(2) “Lorong I”

(3) “Lorong II”

(4) “Derita yang Menyelamatkan”

(5) “Pernik Mimpi di Boulevard Square”

(6) “Misteri Tali Batu”

(7) “Sumikolah”

c. Karya-karya yang pernah disutradarai

(1) “Lingkambene”, dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tahun 1991

(2) “Corong I” dipentaskan di Gedung Koni Sulut, Manado, tahun 1999

(3) “Corong II” dipentaskan di Aula Pertamina Cabang Manado, tahun 2000

(4) “Derita yang Menyelamatkan” dipentaskan di Aula Pertamina Cabang Manado, tahun 2002

(5) “9 di Moraya” dipentaskan di Aula Unsrat Manado, tahun 1982

(6) “Sangiang Tuari” dipentaskan di Taman Budaya Sulut, tahun 1984

(7) “Tolong” dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tahun 1989

(8) “Dalang dan Wayang” dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, tahun 1999

(9) “Diri” dipentaskan di Panggung Pertunjukan Rakyat Sulawesi Utara, Manado, tahun 1980

(10) “Dimanakah Engkau” dipentaskan di Gereja Wanea, Manado, tahun 1981

(11) “Dian yang Tak Menyala” dipentaskan di Aula SMP Kartika Chandra Kirana Manado, tahun 1971

(12) “Bunga Kertas” dipentaskan di Panggung Pertunjukan Rakyat, Kantor Penerangan Sulawesi Utara, tahun 1976

(13) “Bukan Meja Hijau” dipentaskan di Panggung Pertunjukan Rakyat, Kantor Penerangan Sulawesi Utara, tahun 1978

(14) “Cermin” dipentaskan di Panggung Pertunjukan Rakyat Manado Tengah, tahun 1980

(15) “Misteri Tali Batu” dipentaskan pada Festival Teater Anak Tingkat Provinsi Sulawesi Utara di Taman Budaya Sulawesi Utara, tahun 1991

(16) “Tertundanya Sebuah Kematian” dipentaskan di Aula Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, tahun 1988

(17) “Kemelut di Ambang Natal” dipentaskan di Aula Gereja Ranotana Weru, Manado, tahun 1982

(18) “Panggilan di Tengah Tantangan” dipentaskan di Aula Gereja Tikala Baru, Manado, tahun 2002

(19) “Detak-detak Suara Hati” dipentaskan di Aula Pertamina Cabang Manado, tahun 2000

(20) “Ia Sudah Bangkit” dipentaskan di halaman Kandep Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Manado, tahun 1994

(21) “Puangkatoanna” dipentaskan di Geding Kesenian Pingkan Matindas, Manado, tahun 1980

(22) “Ekspedisi ke Palungan” dipentaskan di Aula Kanwil Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara, tahun 1989

(23) “Sumikolah” dipentaskan di aula Mapalus, Kantor Gubernur sulawesi Utara, tahun 1994

d. Karya Non-Fiksi

(1) “Rangkuman Pengetahuan Dasar Teater”

(2) “Pedoman Praktis Tentang Teknik Penggarapan dan Penyajian Teater”

(3) “Teater Sulut Antara Kemelut dan Harapan”

(4) “Harapan Ideal Peranan Kesenian Menghadapi Era Globalisasi”

(5) “Pendidikan Kesenian di SMA (Rangkuman Seni Tari dan Teater)”

(6) Pengembangan Seni Sastra di Sulawesi Utara”

(7) “Unsur Teater dan Tari dalam Ibadah”

(8) Kurikulum Muatan Lokal SLTP (Budaya Daerah)”

(9) “Pertunjukan Kesenian”

(10) “Pokok-pokok Pikiran tentang Penggarapan Cerita Rakyat sebagai Seni Pertunjukan”

(11) “Teknik Pengungkapan dalam Tari Kreasi Baru”

(12) “Tari Tradisional dan Penggarapannya”

(13) “Usaha Melestarikan Seni Tradisional dalam Rangka Penanggulangan Pengaruh Negatif Budaya Asing”

(14) “Benda Cagar Budaya (BCB) Mempunyai Arti Penting bagi Kebudayaan Bangsa

(15) “Teater Gereja”

(16) ”Kakikat Puisi”

e. Pembicaraan Mengenai Karyanya

(1) “Teknik Penggarapan Teater Tradisional”, acara Panggung Seni Budaya TVRI Manado, tahu 1978 sampai 1979

(2) “Terjemahan Culture Art Mission”, Manado Post, 31 Juli 1999

(3) “Rendahnya Minat Masyarakat Terhadap Budaya Daerah”, Manado Post, 15 April 2003

(4) “Pengembangan Seni Harus Konstitusional”

(5) “Pengembangan Seni Sastra di Sulut”

Frangky Kalumata

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:22 am

1) Latar Belakang Keluarga

Frangky Kalumata, terlahir dengan nama Franciscus P. Kalumata, nama yang diberikan oleh orang tuanya. Ia lahir di Minahasa, 9 September 1958 dari pasangan suami istri alm. Yakop Kalumata dan Anie Raintung. Ayahnya adalah seorang yang berwiraswasta dan ibunya seorang ibu rumah tangga.

Frangky Kalumata manikahi Farida Daeng, dan sampai saat ini telah dikaruniai tiga orang anak. Anak pertama Elfran Kalumata, anak kedua Asmarini, dan anak ketiga Faradiba.

2) Latar Belakang Pendidikan

Frangky Kalumata bersekolah di SD Katolik (Roma Katolik) XIX Santo Aloysius di Manado. Kemudian mengikuti Ujian Persamaan SMP di Manado.

Pendidikan luar sekolah yang pernah dijalaninya antara lain: Workshop State Management, kerjasama Japan Foundation dan Direktorat Kesenian Depdikbud, tahun 1997 dan 1998 di Bandung.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Riwayat pekerjaan Frangky Kalumata diawali sejak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ia diangkat menjadi PNS di Taman Budaya Sulawesi Utara sejak tahun 1980. Sampai sekarang ia tetap aktif sebagai pengawai di Taman Budaya Sulawesi Utara.

Pekerjaannya di Taman Budaya membuatnya banyak bergelut dengan pekerjaan kesenian. Berbagai kegiatan berkesenian dijalaninya selama berdinas di kantornya. Ia membina kesenian di Sulawesi Utara melalui program-program kerja kantornya.

Selain aktif di kantornya ia juga aktif di luar kantor. Tahun 1992 ia pernah tercatat sebagai redaktur majalah Maesaan yang terbit di Jakarta. Redaktur majalah Nyiur Melambai pada tahun 1996. Sejak tahun 1986 ia aktif di berbagai kelompok teater yang ada di Manado. Beberapa kelompok teater yang pernah dibinanya antara lain: Teater Lawangirung, Sanggar Repsal, Teater Bukit Muria Winangun, dan terakhir ia masih aktif sampai sekarang di Teater Mesba, Malalayang.

4) Latar Belakang Kesastraan

Sejak masa bersekolah di SD, Frangky Kalumata mempunyai kegemaran membaca komik. Komik-komik yang dibaca pada masa itu berupa komik yang bercerita tentang petualangan. Ia juga mempunyai kesukaan membaca karya-karya fiksi. Sedangkan cerita-cerita dongeng ia dapatkan dari ibunya. Ibunya selalu mendongeng untuknya sebelum pergi tidur. Sejak masa SD itu kesenangannya kepada sastra mulai tumbuh.

Frangky mulai menulis cerpen ketika masa SMP (1976). Ia mengikutsertakan cerpennya dalam lomba penulisan cerpen di lingkungan gereja. Sejak itu ia lebih banyak lagi menulis. Ia pun mulai menulis puisi untuk dinikmati sendiri. Dalam hal menulis puisi ia banyak belajar dari Husen Mulahele dan Baginda M. Tahar. Cara yang ia tempuh dalam belajar ini yaitu dengan memperlihatkan karyanya kepada Husen Mulahele dan Baginda M. Tahar. Harapannya supaya puisinya dikomentari dan ia bisa memperbaikinya. Pada masa remaja itu ia sering juga bermain drama di teater gereja.

Pada tahun 1984 beberapa cerpen hasil karyanya pernah dikirim ke majalah Horison. Walaupun tidak sempat dimaut ia terus berkarya. Naskah drama yang ditulis pertama kali ketika itu berjudul “Si Pali”. Karya-karyanya khususnya puisi banyak dimuat harian yang terbit di Manado, seperti Manado Post, Cahaya Siang, dan Komentar.

Frangky Kalumata pernah bekerja bersama dengan Remmy Silado ketika shooting Film Benteng Moraya di Tondano pada tahun 1992.

Kegiatan tulis-menulis Frangky Kalumata tidak hanya seputar menulis naskah drama, ia juga menulis kritik sastra dan esai tentang drama. Beberapa kritik sastra dan esainya dimuat harian Manado Post. Salah satu judul esainya “Teater Dihidupkan, Teater Menghidupkan” dimuat di Manado Post, pada tahun 1988.

5) Karya-karya Frangky Kalumata

a. Puisi

Antologi Puisi Nusantara “Zamrud Khatulistiwa” Yogyakarta: Direktorat Jenderaal Kebudayaan Taman Budaya Yogyakarta.

b. Drama

(1) “Balada Madi dan Hadijah”, diterbitkan oleh Taman Budaya Sulawesi Utara dalam Antologi Naskah Drama Empat Nuansa

(2) “Telur Mitos”

(3) “Si Pali”

(4) “Jika Cinta Telah Mati” (Balada Anak Bangsa)

(5) “Kedaulatan yang Terbunuh”

(6) “Kutuk Dosa Bangsa”

(7) “Kospirasi Hegemoni”

(8) “Monoplay Virus Hati Gila”

(9) “Cahaya Perjanjian”

(10) “Korupsi”

(11) Berhentilah Menjadi Pejabat”

c. Karya-karya yang Pernah Disutradarai

(1) “Lelak” (dipentaskan di Samarinda tahun 1987)

(2) “Telur Mitos” (dipentaskan di Samarinda tahun 1987)

(3) “Apolo dari Bellac”

(4) “Kedaulatan yang Terbunuh” (dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta tahun 2003)

Richard Rhemrev

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:20 am

1) Latar Belakang Keluarga

Richard Rhemrev lahir di Manado, 30 Desember 1949. Nama keluarga Rhemrev didapat dari kakeknya yang seorang Belanda yang menikahi neneknya orang Siau, Ema Beta. Ayahnya adalah Herman Rhemrev, seorang wiraswasta yang bergerak di bidang teknik. Ibunya alm. Paulina Tumoka, seorang ibu rumah tangga. Mendiang ibunya adalah seorang yang gemar menyanyi. Ia suka menyanyi dalam kelompok paduan suara di gereja.

Richard Rhemrev mempersunting Dona Anastasia Landeng. Pasangan ini dipersatukan di Manado pada tahun 1974. Pasangan suami-istri ini dikaruniai enam orang putra dan putri. Anak pertama Farian Rhemrev, yang kedua Yanti Rhemrev, ketiga Meike Rhemrev, keempat Antoineete Rhemrev, kelima Akta Diurna Rhemrev, dan yang bungsu Hendry W. Rhemrev. Mereka semua tinggal di Manado.

2) Latar Belakang Pendidikan

Masa sekolah dasar dan sekolah menengah Richard Rhemrev jalani di kota Manado. Ia bersekolah di SD Kristen Tabita, tamat tahun 1962. Selanjutnya ia masuk SMP Katolik Tuna, tamat tahun 1965. Dan masa SMA-nya diselesaikan di SMA Kristen YPKM tahun 1968.

Setamat SMA Ica, panggilan akrab Richard Rhemrev, melanjutkan ke perguruan tinggi di Jakarta. Ia sempat tercatat sebagai salah seorang mahasiswa Akademi Bank dan Niaga Jakarta pada tahun 1968 sampai 1971. Kuliahnya ini tidak sempat diselesaikan. Karena suka dengan drama, ia juga sempat kuliah di Akademi Teater dan Film di Jakarta juga, bersamaan dengan masa kuliah di Akademi Bank dan Niaga tahun 1969 sampai 1971. Kuliahnya yang kedua ini juga tidak sempat diselesaikan.

Sekembali dari Jakarta (1977—1979) ia sempat pula kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Merdeka Manado. Kuliahnya ini pun tidak tuntas.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Richard Rhemrev menjadi Pegewai Negeri Sipil (PNS) sejak Februari 1981. Ia mengawali kariernya sebagai pegawai negeri di Departemen Penerangan Provinsi Sulawesi Utara. Pada departemen penerangan itu ia mendapat tugas pada seksi pertunjukan rakyat.

Tahun 2000 ketika Departemen Penerangan RI dihapuskan dan seluruh pegawai dilingkungan Departemen Penerangan dimutasikan ke departemen lain, ia dipindahkan ke Pemerintahan Kota Manado. Di Pemerintahan Kota Manado ia ditugaskan di Dinas Informasi dan Komunikasi Kota Manado. Jabatan yang diembannya di sana yaitu Koordinator Seksi Pertunjukan Tradisional, sampai sekarang.

Selain bekerja sebagai pegawai negeri ia juga aktif bekerja di bidang kesenian di luar kantornya. Kegiatan yang dilakoninya selain sebagai PNS antara lain sebagai pelatih dan penulis naskah/materi pertunjukan/pagelaraan. Ia telah banyak mencatatkan dirinya sebagai penulis naskah-naskah sinetron, fragmen televisi, dan naskah drama panggung. Karya-karyanya telah banyak disiarkan di TVRI Stasiun Manado dan TVRI Stasiun Pusat Jakarta.

4) Latar Belakang Kesastraan

Sejak masa sekolah dasar Richard Rhemrev sudah ikut “tablo”, semacam drama tetapi tidak memakai suara. Tablo ini pentas di sekolah-sekolah dan gereja-gereja. Tablo yang ia ikuti berkisah tentang cerita-cerita Natal.

Ketika masa SMA ia mengikuti paduan suara gereja, teater sekolah, dan teater gereja. Ia sempat terlibat dalam pementasan drama di sekolahnya. Pementasan yang dilakukan kala itu dengan lakon “Mencari Cahaya Surgawi” naskah karya J. Damar, pentas di sekolah YPKM, sebagai pemain.

Setamat SMA Richard Rhemrev merantau ke Jakarta. Ia mengenal drama lebih jauh ketika ia berada di Jakarta.

Ica tinggal di Ketapang Utara 1 Jakarta. Di sana ia bergabung dengan Indonesian Movies semasa kuliah di Akademi Teater dan Film. Bersama dengan teman-temannya, ia juga mendirikan teater di Jakarta dengan nama Teater Bara (1969).

Orang-orang yang menjadi inspirasi bagi Richard Rhemrev dalam bidang drama adalah: Teguh Karya, Sumanjaya, Arifin C. Noor, Ferry Rusano Pane, Parto Tegal, Mutiara Sarumpaet, Didi Syahmadi Syafar, Asmai Syafar, Gandi Naenggolan, Rusian Carles, dan Caudin Salimoni. Mereka juga orang-orang yang diajak bermain drama ketika ia berada di Jakarta. Novel-novel tragedi juga banyak memberikan inspirasi dalam karyanya.

Tahun 1977 Richard Rhemrev kembali ke Manado dan bergabung dengan Teater Prepidentia pimpinan Royndra Kairupan.

5) Karya-karya Richard Rhemrev

a. Puisi

Richard Rhemrev banyak menulis puisi untuk kepuasan dirinya, tidak sempat dipublikasikan. Beberapa puisi yang pernah ia tulis di antaranya: “Bara Kata” dan “Bom Bam Beng”.

b. Drama

(1) “Si Pali” (cerita rakyat Minahasa)

(2) “Mokosambur” (cerita rakyat Minahasa, sepuluh seri)

(3) “Patungku Sayang” (cerita rakyat Minahasa)

(4) “Datoe Binangkang” (cerita rakyat Bolaang Mongondow)

(5) “Pemberontakan Jambat” (cerita rakyat Bolaang Mongondow)

(6) “Ralama Raso Bentane” (cerita rakyat Talaud)

(7) “Salu (Hukung Kapungu)” (cerita rakyat Bolaang Mongondow)

(8) “Sember”

(9) “Hompimpa”

(10) “Dodeso”

(11) “Jalan Setapak”

(12) “Jago Merah”

(13) “Pusaka Kinawalian” (cerita rakyat Minahasa)

(14) Kure

(15) “Drs. Komik”

(16) “Sadohe” (cerita rakyat Bolaang Mongondow)

(17) “Rumah Kost”

(18) “Penginapan Hamar”

(19) “Putri Simbang Bunga” (cerita rakyat Gorontalo)

c. Karya-karya yang Pernah Disutradarai

Selain menulis naskah tersebut di atas Richard Rhemrev juga menyutradarai karyanya itu. Jadi karya-karyanya di atas semuanya pernah disutradarai.

Pitres Sombowadile

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:17 am

1) Latar Belakang Keluarga

Pitres Sombowadile lahir di Manado, 28 Mei 1966. Ia akrab dipanggil Pit. Lahir sebagai anak ketiga dari keluarga sederhana yang hampir tidak punya tradisi sastra, kecuali ayahnya, Salmon Sombowadile, penutur cerita-cerita semacam Kisah Abunawas sebelum anak-anak berangkat tidur. Dari lima bersaudara, Pitres, merasa untuk urusan cerita dia sangat tertarik dan ayahnya memang selalu rajin dengan ceritanya bagi anaknya ini. Masa SD dilalui biasa-biasa saja, kecuali yang diingat adalah semangat petualangannya. Sering dia berangkat ke sekolah dan kembali ke rumah setelah dua atau tiga hari. Dia tetap bersekolah tetapi berangkat dari rumah kerabat, saudara tua bahkan teman-temannya. Maklum memang rumahnya jauh dari sekolah di sebuah perkebunan.

Dalam usia masa-masa SD itu dia sangat gandrung membaca. Semua taman bacaan di bagian utara Manado dimasuki untuk meminjam bacaan terutama cerita-cerita bergambar. Sedangkan untuk dananya didapatkan dari menjual buah-buahan terutama pisang dari kebun. Untuk buku pelajaran juga dibeli dengan menjual pisang, kacang, dan kue yang sebagian dibesarkan dan dibuat ibunya Marantha Caroles. Apa yang dilakoninya tidak dilakoni oleh saudara-saudaranya: Nico Sombowadile (anak pertama), Rafles Sombowadile (anak kedua), Vanny Sombowadile (anak keempat) dan Daendels Sombowadile (anak kelima).

Hidup susah tidak membuatnya kalah berprestasi di sekolah karena itu saat masuk SMP dia masuk kelas A, kelas untuk menampung murid-murid berprestasi dari SD-SD.

2) Latar Belakang Pendidikan

Pitres didaftarkan ibunya bersekolah di SD GMIM XXV Tumumpa, Manado. Sebuah sekolah gereja yang sangat terbatas fasilitasnya. Gedungnya terbuat dari gedeg bambu, tidak berloteng, dan atapnya bocor. Kadang saat tiba di sekolah murid-murid harus membersihkan ruang kelas dari kotoran binatang (anjing dan babi). Tetapi dia menikmati persekolahan penuh dengan petualangan ini. Dia bisa membeli buku pelajaran (cetak) semacam Himpunan Pengetahuan Umum (HPU) dan Buku Persiapan Ebta karangan Rindorindo dari hasil jualan pisang dan kacang keliling kampung.

Sesudah itu masuk SMP Negeri 3 Manado dan menikamati fasilitas sekolah yang memadai. Dia menjadi juara umum sekolah sampai tamat sekolah. Pada masa SMP banyak kegiatan siswa yang diikutinya dan ia mulai menulis puisi, membuat lagu, belajar bahasa Inggris intensif dengan fasilitasi Agus Lumettu. Mulai membaca karya-karya sastra Indonesia dan asing berbahasa Inggris. Ia membaca lebih banyak buku lagi.

Setamat SMP ia melamar sekolah lanjutan atas SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) di Manado, dengan alasan agar bisa segera kerja membantu orang tua. Karena konflik dengan seorang guru, ia diberi nilai buruk oleh guru tersebut. Dia memutuskan pindah sekolah ke SPMA Kr. GMIM Tomohon. Meski bersekolah di sekolah pertanian, tetapi di sela-sela waktu luang ia membaca karya sastra serius dengan meminjam buku dari banyak orang di Tomohon dan ia juga membelinya di Toko Buku GMIM Sion jika cukup uang sisihannya.

Kemudian ia masuk ke Institut Teknologi Minaesa (kini di Tomohon). Meski sempat berprestasi dalam perkuliahan, dia tidak sempat menamatkan karena disibukkan dengan kepercayaan padanya untuk mengelola Majalah Sulawesi Utara di Jakarta, Maesaan, sebagai direktur. Hingga kini kesempatan untuk melanjutkan perkuliahan masih terbuka, soalnya waktunya banyak tersita dengan berbagai kesibukan yang dijalankannya kini. Dalam masa kuliahnya itu ia tercatat pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) ITM.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Setelah selesai SMPA Pitres tidak masuk sebagai pegawai negeri mengikuti teman-temannya, tetapi ia menjadi guru swasta di Paso pada sebuah SMP Kosgoro yang dibangun di sana. Ia menjadi guru untuk hampir semua mata pelajaran, maklum kerena SMP tersebut hanya memiliki tiga orang guru saja.

Sesudah itu ia menjadi pengajar les bahasa Inggris terutama untuk orang yang hendak bepergian ke luar negeri (maklum mereka jelas punya motivasi kuat/harus menguasai bahasa Inggris). Dia juga menerima penerjemahan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Karena kegiatan tulis-menulis ia sudah lakukan sejak masa SMP dan terus dilakukan dalam kesempatan menerjemahkan, maka dia memutuskan akhirnya bekerja sebagai staf khusus (penerjemah) di Harian Umum Manado Post (1987) yang baru saja dibuka kala itu. Semabri itu ia menjadi koresponden majalah Fakta, Surabaya.

Tahun 1987 sudah aktif sebagai relawan pada LSM yaitu Lembaga Bantuan Hukum Manado-Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LBH-YLBHI). Saat kembali di Manado sempat aktif terlibat dalam program-program tidak tetap LBH Manado. Kemudian ia diutus oleh Yayasan Suara Nurani menjadi fellow pada Bank Information Center, Washington DC, USA (1997) untuk mempelajari kebijakan pembangunan Bank Dunia secara umum dan khusus di Indonesia. Sepulang dari sana diangkat menjadi koordinator Badan Pelaksana Yayasan Suara Nurani hingga tahun 2000.

Ia ikut terlibat dalam berbagai jaringan LSM lokal, nasional, regional (Asia) dan internasional. Di antaranya ia sempat menjadi pembicara di beberapa pertemuan LSM internasional. Ia juga pernah menjadi anggota Working Team of NGOs on BIMP-EAGA serta menjadi Sekretaris Eksekutif Indonesian NGOs for BIMP-EAGA (Brunaei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippine East ASEAN Growth Area)

Tahun 1999 ia mulai menerbitkan Mingguan Sosial Politik yang ditujukan untuk menderaskan arus demokratisasi di Sulawesi Utara. Mingguan ini bertahan hingga tahun 2001. Yang tersisa dari media idealis ini hanya tenaga-tenaga bentukannya yang kini aktif di beberapa media cetak dan siar di Manado, Jakarta, Ternate, dan Gorontalo.

4) Latar Belakang Kesastraan

Pitres mulai menulis sejak SMP, barbagai bacaan sastra sudah ia kenal juga sejak masa itu. Masa-masa sekolah di SMPA juga dimanfaatkan dengan membaca buku-buku sastra karena kecintaannya terhadap sastra.

Setelah bekerja di Manado Post ia bertemu dengan Kamajaya Al Katuuk, Reiner Ointue, Iverdixon Tinungki, dan banyak lagi pegiat sastra di Manado. Pergaulan dengan orang-orang yang mempunyai hobi yang sama yaitu sama-sama mengandrungi sastra membuat ia lebih banyak melalap buku sastra baik karya sastra maupun kajiannnya. Pada masa itu ia menerbitkan Antologi Puisi Sasambo dengan enam penyair Sangihe Talaud sebagai upaya melanjutkan semangat Tatangkeng.

Di Jakarta ia berkecimpung dengan kalangan kesenian terutama dengan para pegiat sastra yang berasal dari Manado. Ia mendirikan Balai Teater Jakarta, 1995 bersama dengan Yoshua Pandelaki (mantan pegiat di Teater Koma, Nano Riantiarno), Eric M.F. Dajoh (Teater Populer Teguh Karya), Donna Keles (pekerja agen periklanan di Jakarta), dan Teddy Kumaat (kini wakil walikota Manado) dengan konsen utama yaitu membawa semangat baru kesenian di Manado dengan membuka hubungan komunikasi budaya dengan para seniman di Jakarta.

Pitres juga belajar banyak tentang kesenian pada Remy Sylado dan sempat pentas di beberapa pertunjukan Remy Sylado di beberapa hotel berbintang di Jakarta.

5) Karya-karya Pitres Sombowadile

  1. Puisi

(1) Sasambo: antologi Puisi Enam Penyair, Manado: Forum Komunikasi Seni Budaya Sangihe Talaud 1991. Antologi puisi ini memuat enam belas sajak Pitres Sombowadile. Sajak-sajak yang termuat dalam antologi itu yaitu: “Saat Badai”, “Dialog”, “Eskatologi”, “Solitude”, “Tepekur”, “Akhir Sungguh”, “Perempuanku”, “Kalah”, “Eureka”, “Olive”, “Bulan Biru”, “Nyanyian Kecubung”, “Koridor”, “Requim”, “Bandar”, dan “Katika Magrib”.

(2) Mimbar Penyir Abad 21, Jakarta: Balai Pustaka 1996, antara lain dengan judul: “Sasambo”, “Ikan-ikan di Jakarta”, “Senjakala”, dan “Kenapa Angin Bertiup Kini”.

  1. Cerita Pendek

Beberapa cerita pendek Pitres diterbitkan di Manado Post, Majalah Integral (Jakarta), dan Majalah Sukma (Jakarta). Karya-karya yang pernah terbit tersebut tidak ada lagi arsipnya pada pengarang.

  1. Karya Non-Fiksi

Pitres banyak menulis karya tulis tentang berbagai masalah sosial dan kebudayaan yang ditulisnya di tingkat lokal (Cahaya Siang, Manado Post, Kabar, Komentar, dan beberapa majalah di Jakarta). Untuk masalah sastra ia menulis di harian Republika, Jakarta. Ia juga menerbitkan tulisan pribadi yang dibuat menjadi booklet untuk diedarkan.

  1. Pembicaraan Karyanya

(1) Berbagai tulisan di Manado Post dan Cahaya Siang di antaranya oleh Kamajaya Alkatuuk, Frangky Kalumata, dan Sovian Lawendatu.

(2) Ulasan Sutardji Calzoum Bachri dalam Buku Mimbar Penyair Abad 21.

(3) Ulasan Remmy Sylado, dalam beberapa tulisannya di antaranya dalam buku “9 dari 10 Kata Indonesia adalah Asing”.

Leonardo Axsel Galatang

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:14 am

1) Latar Belakang Keluarga

Leonardo Axsel Galatang lahir di Manado, 27 Juli 1963. Ia terlahir dari keluarga petani. Ayahnya bernama Roiter Galatang dan ibunya bernama Getroide Kambira. Kedua orang tuanya tinggal di Bitung. Axcel adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Sampai saat ini ia masih membujang.

2) Latar Belakang Pendidikan

Masa-masa sekolah Axsel semuanya dilalui di Kota Bitung. Sekolah dasar diselesaikan pada tahun 1975, SMP tamat tahun 1979, dan SMA tamat tahun 1983. Axsel melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Ilmu Politik Merdeka, Manado, mengambil jurusan sosiologi. Kuliahnya diselesaikan tahun 1992.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Semasa duduk di bangku SMA (1982) Axsel magang di harian Pancasila. Tahun 1994 menjadi redaktur Seni Budaya Majalah Pendidikan “Spektrum”. Sejak tahun 1988 hingga sekarang ia bekerja sebagai wartawan tetap pada Harian Manado Post. Ia juga aktif di Sanggar Tangkasi sejak tahun 1983 sampai tahun 2000.

4) Latar Belakang Kesastraan

Leonardo Axsel Galatang menulis sejak bersekolah di SMP (1978). Kegemarannya menulis diketahui oleh guru bahasa Indonesianya, Ny. Pangalila. Atas saran gurunya itu ia mengirim puisinya ke Majalah Gadis. Alhasil, sebuah puisi yang berjudul “Mawar Layu di Depan Kelasku” dimuat di Majalah Gadis. Ketika itu ia mendapat honor menulis Rp150,00. Sejak diamuat puisi karyanya itu ia selalu menulis, waktu istirahat sekolah pun ia pakai untuk menulis puisi.

Semasa SMP juga ia suka membaca karya-karya sastra, seperti karya Teguh Esa, Si Ali Topan Anak Jalanan; Dedy Armand, Kecupan Pertama; Dedy Iskandar, Musim Bercinta, Gita Cinta dari SMA: Jilid 1 dan 2, dan Bunga-bunga Sekolah. Karya-karya itu pula telah menjadi inspirasinya dalam menulis. Selain itu karya-karya puisi J.E. Tatengkeng, Chairil Anwar, Sapardi Joko Damono menjadi inspirasinya dalam menulis.

Setelah berkenalan dengan Herman Lahaamenduk, Kamajaya Al Katuuk, Joni Rondonuwu, ia mulai mengenal sastra-sastra serius dan belajar drama. Saat itu ia menyadari bahwa karyanya masa SMP kurang berbobot.

5) Karya-karya Leonardo Axsel Galatang

Puisi

(1) Sasambo: antologi Puisi Enam Penyair, Manado: Forum Komunikasi Seni Budaya Sangihe Talaud 1991. Antologi puisi ini memuat sebelas sajak Leonardo Axsel Galatang. Sajak-sajak yang termuat dalam antologi itu yaitu: “Dendang Nellayan Teluk Manuwo yang Kehilangan Dayung”, “Figur”, “Lamunan”, “Kembara”, “Sajak Batu Salana”, “Potret Diri”, “Balada Hutan Bambu di Tonggeng Sambo”, “Gulita”, “Seekor Bangsat”, “Cemburu”, dan “Tembang Toadu Sura”.

(2) Riak Utara

Semuel Muhaling

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:11 am

1) Latar Belakang Keluarga

Semuel Muhaling lahir di Desa Maawali, Pulau Lembeh pada tanggal 18 Sepetember 1964. Ayahnya alm. Yohanes Muhaling adalah pensiunan PNS dan ibunya, Mismartje Tatipang, seorang ibu rumah tangga.

Semuel adalah anak pertama dari lima bersaudara. Ia menikahi Yetrinecke Tustisia Lalenoh pada tanggal 10 November 2000. Pasangan ini dikaruniai seorang putri yang sekarang berumur dua tahun sembilan bulan, Cecilia Nordica Susastra Muhaling.

2) Latar Belakang Pendidikan

Semuel, putra Sangihe Talaud ini, menamatkan sekolah dasar tahun 1967 di SD GMIM Mawali. Tahun 1980 ia tamat dari SMP Negeri Girian Filial Papusungan. Kemudian melanjutkan ke SMA Negeri Bitung dan tamat tahun 1983. Setamat SMA tahun 1983, ia sempat menganggur setahun.

Tahun 1984 ia ikut Sipenmaru dan diterima pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Manado. Tahun 1989 berhasil menyandang gelar Sarjana Pendidikan, Doktorandus.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Semuel mengawali riwayat pekerjaannya sebagai wartawan pada Mingguan Warta Utara Manado tahun 1986—1987. Selanjutnya menjadi wartawan juga di Harian Cahaya Siang Manado sampai tahun 1992.

Tahun 1992-1993 ia diangkat menjadi guru SMA Negeri Tompaso, Minahasa. Tahun 2001, selama tiga bulan dipercaya menjadi Kepala Seksi Pengembangan Seni Budaya, Bahasa, dan Sastra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bitung. Setelah itu diangkat menjadi Kepala Subdinas Humas Dinas Informasi dan Komunikasi Kota Bitung sampai sekarang. Sejak tahun 2003 menjadi Direktur PT Radio Kota Bitung FM dan Direktur Televisi Kota Bitung Multikanal.

Sejak tahun 1983 sampai sekarang sebagai pembina Sanggar Tangkasi Bitung. Ia juga merupakan salah satu pendiri sanggar tersebut. Semuel juga aktif dibeberapa sanggar di Kotta Bitung sebagai pembina, salah satunya ia aktif di Sanggar Serunai Kasih.

4) Latar Belakang Kesastraan

Sejak SMP Semuel suka mencorat-coret, menulis puisi untuk disimpan saja. Setelah SMA tulisan-tulisan puisinya mulai dikirim ke harian Obor Pancasila, Manado, majalah guru-guru, Spektrum yang terbit di Manado. Karya-karya Chairil Anwar dan J.E. Tatengkeng menjadi inspirasinya untuk mencorat-coret, membuat puisi. Karena suka menulis dan kecintaannya dengan dunia sastra, ia memilih kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, walaupun menurut dia, ia tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Pada masa kuliah ia mendapat Tunjangan Ikatan Dinas (TID), itu pula mengantarkan ia menjadi seorang guru. Semasa kuliah ia juga bekerja di koran Warta Utara. Di koran ini ia banyak menulis esai dan juga puisi.

5) Karya-karya Semuel Muhaling

a. Puisi

(1) Sasambo: antologi Puisi Enam Penyair, Manado: Forum Komunikasi Seni Budaya Sangihe Talaud 1991. Antologi puisi ini memuat sembilan sajak Semuel Muhaling . Sajak-sajak yang termuat dalam antologi itu yaitu: “Kelima 000.000.000”, “Ritus”, “Riak”, “Bocak dan Karang Laut”, “Keringat”, “Jantung Lautku = Kita”, “Sepotong Nasib Peminta-minta”, “Perempuan dan Janin”, “Duri Diri”, “Malam Bumi”, “Rindu”, dan “Menjadi Kau”.

(2) Riak Utara

(3) Karya-karya puisinya juga diterbitkan di beberapa harian, seperti harian Obor Pancasila, Cahaya Siang, dan Manado Post.

b. Drama

Semuel Muhaling menulis drama untuk kepentingan lingkungan sendiri yaitu menulis drama untuk perayaan Natal di gereja-gereja.

c. Karya Non-Fiksi

Karya-karya nonfiksi ditulisnya di koran tempatnya bekerja dan beberapa koran yang terbit di Sulawesi Utara. Ia juga mengirim tulisannya berupa esai ke Mingguan Mutiara, Jakarta; Majalah Warna Sari, Jakarta; dan Jawa Post, Surabaya.

Sovian Lawendatu

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:06 am


1) Latar Belakang Keluarga

Sovian Lawendatu lahir di Kampung Sawang (daerah rawan bencana Gunung Awu), Sangihe, 20 Mei 1968. Ia adalah anak sulung dari enam bersaudara. Ayahnya, seorang petani yang pernah bekerja sebagai Penolong Injil (Penghentar Jemaat) di lingkungan Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST). Ibunya, pensiunan guru sekolah datar.

Sovian Lawendatu mempersunting seorang gadis asal Mapanget, Minahasa, Dra. Femmy Johana Maramis. Pasangan ini dikaruniai dua orang putra. Putra pertama Ignoranta Ars Kreato Lawendatu (Ino) lahir 30 Mei 1995 dan putra kedua Johanis Adrian Sains Lawendatu (Ian) lahir 24 Juni 1998.

2) Latar Belakang Pendidikan

Masa sekolah dasar dijalani Sovian Lawendatu di kampung kelahirannya, Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen, Sawang. SD diselesaikannya pada tahun 1980. Kemudian, Sovian melanjutkan ke SMP Kristen Sawang, diselesesaikan tahun 1983 dan dilanjutkan ke SMA Negeri Tahuna, ditamatkan pada tahun 1986.

Sovian Lawendatu lulus Seleksi Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) di Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi Manado (1986), tetapi tidak diambil karena tidak disetujui oleh orang tuanya. Ibunya menghendaki ia menjadi guru. Akhirnya ia menunda kuliah, tahun 1987 ia mendaftar untuk menjadi mahasiswa di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Manado. Pendidikannya di perguruan tinggi diselesaikan pada tahun 1992, sehingga ia berhak menyandang gelah Sarjana Pendidikan.

Tahun 1990 Sovian menjadi Mahasiswa Berprestasi I FPBS IKIP Manado. Ia menerima Tunjangan Ikatan Dinas (TID), sehingga setelah lulus ia di-CPNS-kan dengan tanpa tes alias bebas “KKN”.

Semasa kuliah ia aktif sebagai pengurus himpunan mahasiswa jurusan dan senat mahasiswa fakultas. Tugas akhirnya Novel Lho dan Keok karya Putu Wijaya telaah dari perspektif Psikologi (Psikoanalisis) Sigmund Freud.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Sejak lulus dari perguruan tinggi, sebelum diangkat menjadi guru, Sovian Lawendatu berwiraswasta untuk mengisi hari-harinya dan tentunya ia tidak meninggalkan hobinya menulis.

Tahun 1993 Sovian diangkat menjadi guru di SMP Negeri 3 Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow. Sejak itu ia berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tugasnya sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Pinolosian berakhir tahun 2001. Kemudian ia dipindahkan ke SMA Negeri 1 Bitung. Ia bertugas di SMA tersebut sampai sekarang.

Selain sebagai guru di SMA Negeri 1 Bitung ia juga aktif sebagai pembina sanggar “Cakrawala”, sanggar teater di sekolahnya dan pembina di beberapa sanggar teater di Kota Bitung.

4) Latar Belakang Kesastraan

Pada masa sekolah dasar, Sovian Lawendatu senang mendengarkan cerita-cerita dongeng “Seribu Satu Malam” dari neneknya. Selain itu ia gemar membaca buku-buku fabel dan cerita-cerita anak yang dibawa oleh ibunya dari perpustakan sekolah. Ketika masa sekolah dasar itu pula ia sudah sempat membaca roman Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana, buku Kesusastraan Lama Indonesia yang ditulis oleh Zuber Usman, B.A. Semua buku itu adalah milik ibunya yang semasa itu bersekolah di SGA Tahuna. Sovian mengatakan tentunya pada masa itu dirinya tidak begitu mengerti “isi” buku-buku tersebut. Alhasil, sampai saat ini Sovian masih gemar membaca buku karya sastra dan teori sastra, di samping filsafat, teologia, dan lain-lainnya.

Sovian belajar menulis cerpen dan puisi secara otodidak sejak ia duduk di kelas tiga SMP. Keinginannya belajar menulis timbul setelah ia membaca cerpen-cerpen dan puisi-puisi Leonardo Axsel Galatang di majalah Spektrum (terbitan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara).

Sovian mengaku baru merasa “bisa” menulis cerpen ketika di kelas tiga SMA (1984). Cerpennya ketika itu berjudul “Kabut Hitam Pasti Berlalu” dimuat di rubrik budaya majalah Spektrum, asuhan Leonardo Axsel Galatang. Sejak diterbitkan karyanya itu, gairah menulisnya semakin menggebu. Karya-karyanya dalam bentuk cerpen cukup banyak yang dimuat di “majalah guru SD se-Sulut” tersebut. Sayang sekali, majalah-majalah yang memuat cerpen-cerpennya tidak lagi ditemukan karena kurangnya pendokumentasian.

Masa “subur” penulisan Sovian yang berupa cerpen, puisi, esai, dan kritik sastra adalah ketika masa kuliah di IKIP Manado. Karya-karyanya ketika itu kebanyakan dimuat di rubrik Tambur Budaya, Manado Post (asuhan Leonardo Axsel Galatang) dan Panggung Budaya, Cahaya Siang (asuhan Semuel Muhaling). Sesekali Sovian juga mengirim karyanya ke majalah Sarwa Bharata Eka Polda Sulutteng (asuhan Iverdixon Tinungki).

5) Karya-karya Sovian Lawendatu

a. Puisi

Sasambo: antologi Puisi Enam Penyair, Manado: Forum Komunikasi Seni Budaya Sangihe Talaud 1991. Antologi puisi ini memuat delapan sajak Sovian Lawendatu. Sajak-sajak yang termuat dalam antologi itu yaitu: “Sangihe (perjanjian anak-cucu tagholoang)”, “Gunung Awu Senja”, “Makaampo”, “Di Tepi Lembah Tartaros”, “Mendekap Bayangmu”, “Biduk”, “Kontemplasi Petaka Nuklir”, dan Masempar”.

b. Cerita Pendek

Cerpen Sovian Lawendatu belum pernah dibukukan. Karya cerpennya dimuat di beberapa harian dan majalah yang terbit di Sulawesi Utara, seperti Manado Post, Cahaya Siang, Spektrum (majalah), dan Sarwa Bharata Eka (majalah).

Berikut ini antara lain cerpen yang pernah dimuat dalam media tersebut di atas: “Yudas Iskariot”, “Mimpi”, “Sinterklas”, “Teori”, dan “Kolbog”.

c. Karya Non-Fiksi

Esai-esai dan catatan budaya Sovian Lawendatu sering dimuat di Harian Manado Post. Berikut beberapa catatan budaya yang dimuat dalam beberapa harian:

(1) “Perihal ‘Eskatologi’ Pitres”, terbit di Harian Telegraf , 16 Desember 2000

(2) “Seruan dari Pulau Lembeh: Bertobatlah…, Kerajaan Sorga Sudah Dekat”, terbit di Harian Telegraf, Maret 2001

(3) “Iver, Agus, Pitres, Semuel: Bertobat Lewat Sajak”, terbit di di Harian Telegraf, April 2001

(4) “Fenomena Sosial dalam Sajak Alfeyn Gilingan”, terbit di Manado Post, 6 Maret 2002

(5) “Pertobatan dan Hugelisasi Iverdixon Tinungki”, terbit di Manado Post, 9 Maret 2002

(6) “Kasih dalam Perspektif Universalitasnya” terbit di Manado Post, 25 Maret 2002

(7) “Perihal Teater Kolosal Itu”, terbit di Manado Post, 12 April 2002

(8) “Lomba Baca Puisi Apresiatif-Teaterikal” terbit di Manado Post, 13 November 2002

(9) “Penyajak Kita dan Budaya Moyangnya” terbit di Manado Post, 13 November 2002

Reiner Emyot Ointoe

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:00 am

1) Latar Belakang Keluarga

Reiner Emyot Ointoe lahir di Gorontalo pada tanggal 24 Oktober 1958. Reiner adalah putra kelima dari delapan bersaudara pasangan suami istri Alm. Mohamad Sahi dengan Mintje Makarawo. Ayahnya, Mohamad Sahi, pada masa mudanya adalah seorang pemain dan sutradara tonil di Gorontalo. Beliau juga pernah menerbitkan Tabloid Merdeka. Pada masa hidupnya mendiang ayah Reiner seorang pengurus Palang Merah Indonesia juga bekerja di PT Gapsu (Gabungan Pelayaran Sulawesi Utara). Aktivitasnya di PT Gapsu menyebabkan beliau berkesempatan pergi ke Cina dan Jepang sebagai seorang ahli pelayaran. Beliau juga pernah bekerja di Jepang di bidang pelayaran. Ibunya adalah seorang pensiunan guru.

Reiner memperistri Terry Sigar, seorang gadis Tondano, Minahasa. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak. Anak pertama seorang putra bernama Mohamad Aldin Ointoe, lahir 30 November 1995. Anak kedua, seorang putri bernama Almitra Putri Cahyani, lahir 22 Agustus 1997.

2) Latar Belakang Pendidikan

Reiner mengelami masa SD dan SMP di Manado. Sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dijalani SD dan SMP Muhamadyah Manado. Ia tamat dari SD tahun 1970 dan SMP tahun 1973. Tahun 1977 ia tamat dari SMA Negeri 222 Luwuk, Sulawesi Tengah.

Selanjutnya Reiner melanjutkan ke perguruan tinggi di Sulawesi Utara, yaitu di Fakultas Sastra Universitas Samratulangi, Manado. Ia mengambil jurusan bahasa Jerman. Kuliahnya diselesaikan pada tahun 1985 dengan judul tugas akhir “Perubahan Eksistensi Manusia dalam Novel Verwandlung Karya Franz Kafka”.

Tahun 1990 Reiner mengambil Studi Bahasa dan Sastra Jerman Mutakhir di Ferien Sommerkurs, Universiteit Otto Friedrich, Jerman.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Setelah menamatkan studinya di perguruan tinggi tahun 1985, Reiner diangkat menjadi tenaga pengajar di almamaternya, Jurusan Bahasa Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Sam Ratulangi pada tahun 1986.

Selain bekerja sebagai pengajar di Universitas Sam Ratulangi, ia juga aktif di luar kampus. Tahun 1992—1995 ia dipercaya sebagai koordinator liputan di Harian Manado Post.

Tahun 1995 ia mendirikan Yayasan Serat, sebuah lembaga yang bergerak di bidang advokasi, kebijakan publik, dan pemantauan media masa. Sekarang ia menjabat Direktur Yayasan Serat Manado.

Tahun 1998 Reiner mendirikan Tabloid Kabar. Posisi yang ia tempati ketika itu adalah wakil pimpinan perusahaan dan dewan redaksi, sampai akhirnya ia keluar tahun 2000. Ia pernah aktif di berbagai organisasi sosial kemasyarakatan seperti: Ketua Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Sulut (1988—1999), Sekretaris Lembaga Kajian dan Konsultasi Regional (LAPRIL) Sulut (2000—2007), Ketua WALHI Sulut (2000—2001), Koordinator Media Dewan Reformasi Sulut (1999—2002), konsultasi regional Sulut (1999—2004), Sekretaris Dewan Kesenian Sulut (1998—2003), Anggota Dewan Riset Daerah Sulut(2002—2007), Anggota Masyarakat Ilmu Pemerintah Indonesia (MIPI) Sulut (1997—2003), Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Sulut (2001—2006), Anggota Kajian Pasifik Unsrat, Sulut (1997), dan Anggota Koalisi ORNOP untuk Kebebasan Memperoleh Informasi (KMI), Jakarta (2003—2004). Staf Ahli Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Manado (2003—2004), pernah menjadi Advocacy Team BIMP-EAGA Consorsium for the Coastal Enviroment, Davao, Filipina (1988), Participant for Leadership and Management, ICCR, Bangkok, Thailand (2003), Fasilitator Media Clinic Kebebasan Memperoleh Informasi (KMI), IMPLC-CSSP, Jakarta-Bandung (2003), dan Anggota TIM Kajian Kawasan Andalan dan Pulau-pulau Terpencil, BPTT, Jakarta, Bappeda Sulut-Satal (2000).

Di media Reiner pernah menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Bakawang, Manado, Sulut (2002-2003), Presenter Radio SOL, Manado (1995), Presenter Radio KDFM, Manado (1995), Presenter TVM SMs dPR, Manado (2003), Presenter Pasifik TV, Manado (2004), dan menjadi narasumber dari berbagai media radio dan TV di Manado.

4) Latar Belakang Kesastraan

Reiner mulai aktif menulis sajak sejak mahasiswa (1986). Sajak-sajak terpilihnya dimuat di buku kumpulan puisi Riak Utara, antara lain dengan judul “Aku Kencingi Ladangmu”. Ini adalah langkah pertamanya terus menggeluti bidang tulis-menulis. Atas dorongan seorang dosennya, Ibu Sumarow yang ketika itu mencari mahasiswa yang berbakat menulis, ia mulai banyak menulis. Sayang karyanya tersebut hanya dinikmati sendiri dan tidak sempat dipublikasikan. Pada masa mahasiswa ia juga sudah mulai menulis kritik sastra dan esai. Beberapa kritik sastra dan esainya dimuat dalam terbitan majalah Inovasi, sebuah majalah mahasiswa Unsrat, Harian Cahaya Siang, dan Majalah Spektrum.

Tahun 1995 esai-esainya diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul Intelektulitas dan Kritiik Kebudayaan, yang diterbitkan oleh Yayasan Serat, Manado. Sejak terbitnya buku itu, ia lebih banyak menulis esai. Sebagai seorang dosen, ia juga banyak menulis kritik sastra.

Reiner juga banyak bekerja di bidang sastra. Ia sering terlibat sebagai juri dan pelatih di berbagai bidang kegiatan sastra. Tahun 1990-an ia menjadi juri dan pelatih teater di lingkungan Depdikbud, Taman Budaya, Balai Kajian Jarahnitra, dan Balai Arkeologi di Sulawesi Utara.

Tahun 1990-an juga ketika studi di Jerman ia menulis naskah drama “Janin-janin”. Dalam bidang drama ia banyak dipengaruhi oleh Bertold Brecht, seorang dramawan Jerman. Ia juga banyak membaca naskah Arifin C. Noer dan Riantiarno. Sedangkan gaya dalam menulis ia mengaku banyak dipengaruhi oleh gaya tulisan Gunawam Mohamad dan Mangunwijaya.

5) Karya-karya Reiner Emyot Ointoe

a. Puisi

(1) Riak Utara

(2) OPUS, Manado: Yayasan Serat dan Media Pustaka (2004), antara lain dengan judul: “Akademos”, “Putri Kampus”, “Elastisitas”, “Maket”, “Mayat”, “Zoon (Politikus)”, “Oikos”, “Bios”, “Profesorat”, “Phallus Monolog: Bab Pengantar”, “Phallus Monolog: Bab Satu”, “Phallus Monolog: Bab Dua”, “Phallus Monolog: Bab Tiga”, “Phallus Monolog: Bab Empat”, “Demonstran”, “Opus I”, “Opus II”, “Opus III”, “Opus IV”, “Opus V”, “Opus VI”, “Opus VII”, “Jalur”, “Tentang Sila”, “Tentang Vagina”, “Tentang K”, dan “Tentang Saro”.

b. Drama

(1) “Lonceng Terakhir”

(2) “Hikayat Doktor Rimbas”

(3) “Nyanyian Angsa” adaptasi puisi liris Rendra

(4) Suto Mencari Bapa” adaptasi puisi liris Rendra

(5) “Jaring-jaring”

(6) “Janin-janin”

(7) “Luka Wangsa”

c. Karya-karya yang pernah disutradarai

(1) “Janin-janin” (1990-an)

(2) “Lonceng Terakhir” (1990-an)

(3) Dramatisasi Puisi “Nyanyian Angsa” dan “Suto Mencari Bapa” (1990-an)

(4) “Apolo dari Bellac” karya Jean Giraodox dari Perancis, dibawakan dalam festival teater nasional yang dilaksanakan oleh Depdikbud Bidang Kesenian di Bandung (1996)

d. Karya Non-Fiksi

(1) Intelektual dan Kritik Kebudayaan (Buku, 1995)

(2) Bolaang Mongondow: Etnik, Budaya, dan Perubahan, Pemda Bolmong (Buku, 1996)

(3) Pesona Nyiur Melambai: 50 Tahun Kemerdekaan di Sulut, Pemda Sulut (Buku, 1997).

(4) Manusia di Panggung Sumekola: Biografi Intelektual W.J. Wawroentoe, Unsrat Press (Penyunting, 1997)

(5) Studi Survey Potensi Sosial Budaya Kodya Bitung, Bappeda Bitung (Penelitian, 1988)

(6) Kerja Keras, Kerja Cadas, 14 tahun Kepemimpinan Drs. Sarundajang, Bappeda Bitung (Buku, 1999)

(7) Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Kabupaten Sangihe Talaud (et. al., 2000)

(8) Sitou Timou Tumou Tou: Refleksi Atas Evolusi Nilai-nilai Manusia, karya A. J. Sondakh, (Penyunting, 2003)

(9) Dodandian, Kinotanoban, dan Kisahku, karya J. Damopolii (Penyunting, 2003)

(10) Syamanisme Asal Usul dan Kepercayaan Leluhur Bolaang Mongondow, karya Dr. M.W.M. Hekker (Penyunting, 2004)

6) Pembicaraan Karyanya

Tommy F. Awuy membicarakan karyanya, pada pengantar Antologi Opus.

7) Pengargaan yang Pernah Diperoleh

(1) Rekor Muri, tahun 2004, pembacaan puisi oleh 59 panyair dan pembaca puisi dari Sulawesi Utara: Bitung, Minahasa, Bolaang Mongondow, Sangihe, dan Manado yang dilaksanakan TKB Manado tanggal 17 sampai dengan 19 Agustus 2004 dari pukul 00.00 sampai 11.00 WITA.

(2) Penghargaan Karya Jurnalistik dari Universitas Sam Ratulangi, tahun 1994.

Iverdixon Tinungki

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 4:54 am

1) Latar Belakang Keluarga

Iverdixon Tinungki lahir pada tanggal 10 Januari 1963 di Manado. Putra berdarah Sangihe Talaud ini adalah putra dari pasangan suami istri Erens Tinungki dan Triofina Sono. Ayahnya pernah berdinas sebagai tentara dan setelah tidak aktif ayahnya memilih sebagai petani dan tukang kapal. Sedangkan ibunya adalah seorang pedagang.

Masa kecil Iverdixon Tinungki dihabiskan di Siau dan Manado. Ketika berumur empat tahun ia mengikuti orang tuanya tinggal di Siau sampai berumur 12 tahun, kemudian ia pindah kembali ke Manado.

Iverdixon Tinungki yang mempunyai panggilan akrab Ipe menikahi Adolfina Lusye Damura pada tanggal 20 November 1986. Pasangan ini dikaruniai tiga orang putri. Putri pertama meninggal beberapa jam setelah dilahirkan. Putri kedua bernama Adetisye Novelia Tinungki, lahir 24 November 1989 dan putri ketiga bernama Cristi Puitika Tinungki, lahir 14 Juli 1995.

2) Latar Belakang Pendidikan

Iverdixon Tinungki mengalami masa sekolah dasar di dua tempat yaitu di Siau dan Manado. Ia tamat dari sekolah dasar tahun 1973. Tahun 1978 ia tamat dari SMP Negeri 3 Manado dan tahun 1982 ia tamat dari SMA Negeri 3 Manado.

Iverdixon Tinungki melanjutkan ke perguruan tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Merdeka Manado. Kuliahnya di STISIPOL tidak sampai tuntas, ia memutuskan berhenti sampai menjelang ujian terakhir.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Iverdixon Tinungki mulai bekerja untuk menghidupi dirinya sejak masa sekolah. Semasa bersekolah di SMP sampai SMA ia pernah menjadi penjual sayur, penjual es, dan buruh bangunan.

Tahun 1985 ia pernah menjadi sales perusahan Baterai Nasional dan susu Suprima.

Keinginan yang kuat untuk membukukan hasil karyanya mengharuskan ia mencari penghasilan dari berjualan ikan asin. Ia membeli ikan asin dari Pulau Para di Sangihe kemudian ia menjualnya di Pasar Kali Jengki, Manado. Kegiatan tersebut dilakoninya pada tahun 1996. Akhirnya bukunya, Sakral (1987) bisa diterbitkan dari hasil penjualan ikan asin tersebut.

Tahun 1987 ia bekerja diperusahaan PT Sufiin Caspan Nyiur Indah yang merupakan distributor film video. Ia juga sempat menjadi wartawan di beberapa media, seperti: Majalah Kepolisian Sarwa Bhrata Eka, Harian Wibawa, Majalah Maesaan, Harian Suluh Merdeka, Tabloid Kabar, dan Tabloid Tagonggong. Iverdixon Tinungki juga sebagai penulis lepas pada harian Manado Post dan Komentar. Sambil bekerja, pekerjaan seninya terus berjalan. Ia tetap menulis puisi, drama, novel, dan lain-lain.

Pekerjaan yang dilakukannya yang tak terlupakan adalah pada tahun 1982—1983 mengelilingi Sulawesi Utara untuk melatih teater rakyat sampai ke pelosok-pelosok daerah. Ia berpindah dari daerah yang satu ke daerah yang lain dengan dibiayai oleh hasil yang diperoleh dari melatih di tempat sebelumnya. Semua ini dilakukan dengan penuh rasa senang dan penuh rasa cinta terhadap kesenian khususnya drama.

Pada tahun 1985—1990-an ia mengamen dengan membacakan puisi-puisinya di beberapa pub di kota Manado.

Pada tahun 1990-an juga melakukan kegiatan impresario bagi teater jalanan di kota Manado. Ia juga selalu mengikuti gerakan perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan melalui seni.

4) Latar Belakang Kesastraan

Ketertarikan Iverdixon Tinungki kecil dengan dunia sastra dipicu oleh dunia deklamasi ketika ia duduk di sekolah dasar. Sajak yang pertama dia kenal dan selanjutnya menjadi inspirasinya adalah sajak “Tuhanku” karya Chairil Anwar. Sajak “Tuhanku” ini dideklamasikan di banyak gereja di Sulawesi Utara.

Kesukaannya berdeklamasi kemudian berlanjut, ketika duduk di bangku SMP ia mulai menulis sajak-sajak/puisi. Ia selalu mengirim hasil karyanya ke Harian Suluh Merdeka. Sejak dimuat karya-karyanya itu, karya-karyanya mulai dibaca oleh teman-temannya yang tertarik dengan puisi dan karyanya juga mulai dilirik oleh penyair yang sudah mapan pada masa itu. Karya-karyanya mendapat perhatian khusus dari Kamajaya Al Katuuk. Kemampuan kepenyair Iverdixon Tinungki kemudian diasah lagi oleh penyair Kamajaya. Ia kemudian bergabung dengan teater yang dibentuk oleh Kamajaya yang bernama Sanggar Alit Muara.

Pembinaan-pembinaan dari beberapa orang telah menguatkan karya-karyanya. Ia menyebut beberapa orang secara langsung maupun tidak langsung telah membinanya, antara lain: Riantiarno (khusus naskah), Beni Matindas, Eric M.F. Dajoh, Reiner Emyot Ointoe, Richard Rhemrev, dan Wempie Lontoh.

Ipe mengatakan bahwa yang selalu memberikan spirit untuk terus berkarya adalah Prof. Dr. Reiner Carle dari Hamburg University, seorang kritikus sastra Asia Afrika.

5) Karya-karya Iverdixon Tinungki

a. Puisi

(1) Mimbar Penyair Abad 21, Jakarta: Balai Pustaka 1996, antara lain dengan judul: “Sayap Kebebasan Burung-burung”, “Puisi Buat Agnes Conxha di Surga”, “Perjalan Ziarah ke Jakarta”, “J.J.3”, dan “Halaman TIM”.

(2) Sakral, Manado: Alit Muara 1987. Buku ini memuat 30 sajak, yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama Catatan Bumi, dengan judul antara lain: “Sajak-sajak Laut”, “Bukit Romboken”, “Tirani”, “Hujan Sejak Pagi”, “Di Lereng Karangetang”, “Tagulandang”, “Pukul Tiga Subuh di Terminal Bus”, “Sakral”, “Cinta Telah Mati”, “Lukisan”, “Demi”, “Kampung Bingung”, “Pelangi I”, “Pelangi II”, “Sesal”, “Kebosanan”, “Pendakian”, “Gerimis”, dan “Kau”. Bagian kedua Serbuk Kangen, dengan judul antara lain: “Sebuah Tanya”, “Putih”, “Lagu Hasrat Putih”, “Pantai Malam”, “Surat Cinta”, “Kering”, “Dan Kulihat”, “Sarenada Manola”, “Sajak Pinangan”, “Kota”, “Tiba-tiba Kuingin Engkau”, “Surat Buat Kakakku Ina”, dan “Kepada Dia”.

(3) Sasambo: antologi Puisi Enam Penyair, Manado: Forum Komunikasi Seni Budaya Sangihe Talaud 1991. Antologi puisi ini memuat 15 sajak Iverdixon Tinungki. Sajak-sajak yang termuat dalam antologi itu yaitu: “Surga”, “Kreatifitas”, “Simphoni Orang Tercinta”, “Mimpi Pulung-pulung”, “Sajak Buat Pisok”, “Nyanyian Sunyi”, “Dialog Jarod Empat Lima”, “Sajak Tiga”, “Model”, “Cerita Kecil dari Sudut Manado”, “Mesti”, “Impresi”, “Pulang”, “Simphoni”, dan ”Berjaga”.

(4) Surat-surat Sunyi, Manado: Departemen IPAIT 1994. Kumpulan sajak Iverdixon Tinungki ini memuat 72 sajak, antara lain dengan judul: “Nyanyian Sorgawi”, “Freedom”, “Rumah Kontrakan”, “Hening”, “Amsal Puisi”, “Lagu Subuh”, “Syair Sepanjang Jalan”, “Nyanyian Ruh”, “Sajak 15 September”, “Ekspresi”, “Ibadat Tamasya”, “Malerre”, “Ruang”, “Di Lorong Cumi-cumi Cintaku Selalu Terpaut”, “Dialog Penyair dan Tuhan Tentang Abad 20”, “Kesaksian Sang Penyir”, “Sajak Lapangan Kosong”, “Lagu Kuning”, “Firdaus Yang Hilang”, “Hidupku Tak Kan”, “Pikiran-pikiran Kaum Posmo”, “Semadi”, “Menanti Pagi”, “Potret Kita”, “Cerita Kanvas”, “Lagu Senja 1”, “Lagu Senja 2”, “Lagu Senja 3”, “Refleksi Merah”, “Drama Keluarga”, “Drama Kristus”, “Sajak Tentang Bening”, “Dalam Hujan”, “Konfigurasi”, “Menanti Bapak Terjaga”, “Kampung”, “Selingkar Bumi Bogani Yang Kuyu”, “Negeri Jingga”, “Musyawarah Kita”, “Kursi’, “Catatan Politik”, “Kampanye”, “Muka Dua”, “Mau Iklan”, “Dunia Kkita Milik Kita”, “Epos”, “Kado Perkawinan”, “Hilang”, “Lukisan Sunyi”, “Mitos”, “Tragedi Anak Cucu Abraham”, “Suatu Senja di Bawah Pohon Pisang Goroho”, “Sajak Ping Pong”, “Gorong”, “Sajak Sepotong Drama Saat”, “Matahari Mendaki Punggungku”, “Kredo”, “Cermin”, “Reinkarnasi”, “Bongkar Kampung”, “Yang Kuingin”, “Kepada Kawan Seniman”, “Kapan Engkau”, “Kemurnian”, “Sajak Rumah Terbuka”, “Satal”, “Petasan-petasan Akhir Tahun”, “Pepatah”, “Sajak Sepotong Wajah”, “Di Stasiun Sunyi”, “Kerangkeng”, “O Wela”, “Sajak Natal 1991”, dan “Lakon pada Sebuah Panggung Hitam Putih”.

(5) Sajak-sajak Jam Jaga, Edisi Khusus Dokumentasi Kebudayaan bagian kesatu, Manado: Sanggar Kreatif 1997. Kumpulan sajak ini memuat puisi: “Suara di Tengah Puning-puing”, “Apa yang Dapat Lagi Kita Kenang di kota Kita”, “Masih Ada yang Bersimpati Padamu”, “Santa Claus dan Orang Hitam”, “Sajak Ladang dan Kebun”, “Geovana Cossow”, “Perjalanan Ziarah ke Jakarta”, “Indonesia Hari Ini”, “Bila Pertanyaan Berhenti Bertanya”, “Di Gang Bernama Indonesia Raya”, “Sulap-sulapan”, dan “J.J.3”

(6) Sajak-sajak Kelam, Edisi Khusus Dokumentasi Kebudayaan bagian kedua, Manado: Sanggar Kreatif 1997. Kumpulan sajak ini memuat puisi: “Percakapan Kembang Kertas”, “Ruang D”, “Dinamika Pisau Bedah”, “Ada yang Berbisik dari Kenangan”, “Likuidasi Cinta Cinta”, “Rindu dari Ruang ke Ruang”, “Dari Sunyi”, “Waktu yang Berlari”, “Bila Datang Engkau”, “Akankah”, “Kucabuti Rumput-rumput di Hatiku”, “Kukemas Kecemasan”, “Selalu Saja Suster-suster Itu”, dan “Ada yang Diam-diam Menyusup”.

(7) Di Tangan Angin, Manado: Sanggar Kreatif 2001. Kumpulan sajak ini memuat puisi: “Di Tangan Angin”, “Kemanusiaan Manusia”, “Tragedi Anak Abraham”, “Codot”, “Makin Tua”, “Sang Jantan”, “Doa dan Harapan”, “Waktu dan Usia”, “Percakapan Dua Orang Gila Tentang Kegilaan”, “Eskatologi Kehidupan”, “Sebuah Lagu di Senja”, “Bone Datu Maliala”, “Percakapan Sokrates”, “Tentang Keadilan”,”Cinta Abadi”, “Seniman dan Karyanya”, “Kepada Anakku”, “Menjadi Ayah”, “Pemerintah dan Penguasa”, “Sahabat”, “

b. Cerita Pendek

Cerpen-cerpen Iverdixon Tinungki dimuat di beberapa harian di Manado seperti harian Manado Post, Komentar, Suluh Merdeka, Cahaya Siang, Tagonggong, dan Talaud Post. Judul-judul cerpennya yang sempat dipublikasikan oleh media cetak tersebut antara lain: “Rahim”, “Sawakkah”, “Bertemu Datuk”, “Judas”, dan “Majelis Badut Biru Virus”.

c. Novel

Sebuah novelnya diterbitkan bersambung di Majalah Sarwa Bharata Eka dengan judul “Benteng Batumbakara”.

d. Drama

(1) “Raksasa Pemangsa” dalam Antologi Drama Sulawesi Utara

(2) “Bunga Lawa” pernah dipentaskan dalam bahasa Inggris dengan judul “Flower of Lawa”

(3) “Molerre”

(4) “Prof. Dr. Judas Iskariot”

(5) “Malam Putih”

(6) “Kata Mati”

(7) Surat Sunyi Rerumputan”

(8) “Pemberontakan Bahaning Nusa”

e. Karya-karya yang pernah disutradarai

(1) “Molerre”

(2) “Prof. Dr. Judas Iskariot”

(3) “Malam Putih”

(4) “Kata Mati”

(5) “Maria Zaitun”, dramatisasi puisi karya W.S. Rendra

(6) “Dewi Rosa Delima”

(7) “Kapai-kapai” karya Arifin C. Noer

(8) Beberapa naskah karya Misbah

(9) “Aku” dramatisasi puisi Chairil Anwar

(10) “Cintaku Jauh di Pulau”, dramatisasi puisi Chairil Anwar

f. Karya Non-Fiksi

Nazareth”: Sebuah Sejarah Gereja (1990), edisi khusus diterbitkan oleh Gereja GMIM Nazareth, Manado.

6) Pembicaraan Karyanya

Karya Iverdixon Tinungki pernah dibicarakaan oleh Sovian Lawendatu di Manado Post dengan judul tulisan “Mempercakapkan Sajak-sajak Iverdixon Tinungki”, terbit tanggal 24 Januari 1993.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.