I Made Sudiana

Iverdixon Tinungki

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 4:54 am

1) Latar Belakang Keluarga

Iverdixon Tinungki lahir pada tanggal 10 Januari 1963 di Manado. Putra berdarah Sangihe Talaud ini adalah putra dari pasangan suami istri Erens Tinungki dan Triofina Sono. Ayahnya pernah berdinas sebagai tentara dan setelah tidak aktif ayahnya memilih sebagai petani dan tukang kapal. Sedangkan ibunya adalah seorang pedagang.

Masa kecil Iverdixon Tinungki dihabiskan di Siau dan Manado. Ketika berumur empat tahun ia mengikuti orang tuanya tinggal di Siau sampai berumur 12 tahun, kemudian ia pindah kembali ke Manado.

Iverdixon Tinungki yang mempunyai panggilan akrab Ipe menikahi Adolfina Lusye Damura pada tanggal 20 November 1986. Pasangan ini dikaruniai tiga orang putri. Putri pertama meninggal beberapa jam setelah dilahirkan. Putri kedua bernama Adetisye Novelia Tinungki, lahir 24 November 1989 dan putri ketiga bernama Cristi Puitika Tinungki, lahir 14 Juli 1995.

2) Latar Belakang Pendidikan

Iverdixon Tinungki mengalami masa sekolah dasar di dua tempat yaitu di Siau dan Manado. Ia tamat dari sekolah dasar tahun 1973. Tahun 1978 ia tamat dari SMP Negeri 3 Manado dan tahun 1982 ia tamat dari SMA Negeri 3 Manado.

Iverdixon Tinungki melanjutkan ke perguruan tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Merdeka Manado. Kuliahnya di STISIPOL tidak sampai tuntas, ia memutuskan berhenti sampai menjelang ujian terakhir.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Iverdixon Tinungki mulai bekerja untuk menghidupi dirinya sejak masa sekolah. Semasa bersekolah di SMP sampai SMA ia pernah menjadi penjual sayur, penjual es, dan buruh bangunan.

Tahun 1985 ia pernah menjadi sales perusahan Baterai Nasional dan susu Suprima.

Keinginan yang kuat untuk membukukan hasil karyanya mengharuskan ia mencari penghasilan dari berjualan ikan asin. Ia membeli ikan asin dari Pulau Para di Sangihe kemudian ia menjualnya di Pasar Kali Jengki, Manado. Kegiatan tersebut dilakoninya pada tahun 1996. Akhirnya bukunya, Sakral (1987) bisa diterbitkan dari hasil penjualan ikan asin tersebut.

Tahun 1987 ia bekerja diperusahaan PT Sufiin Caspan Nyiur Indah yang merupakan distributor film video. Ia juga sempat menjadi wartawan di beberapa media, seperti: Majalah Kepolisian Sarwa Bhrata Eka, Harian Wibawa, Majalah Maesaan, Harian Suluh Merdeka, Tabloid Kabar, dan Tabloid Tagonggong. Iverdixon Tinungki juga sebagai penulis lepas pada harian Manado Post dan Komentar. Sambil bekerja, pekerjaan seninya terus berjalan. Ia tetap menulis puisi, drama, novel, dan lain-lain.

Pekerjaan yang dilakukannya yang tak terlupakan adalah pada tahun 1982—1983 mengelilingi Sulawesi Utara untuk melatih teater rakyat sampai ke pelosok-pelosok daerah. Ia berpindah dari daerah yang satu ke daerah yang lain dengan dibiayai oleh hasil yang diperoleh dari melatih di tempat sebelumnya. Semua ini dilakukan dengan penuh rasa senang dan penuh rasa cinta terhadap kesenian khususnya drama.

Pada tahun 1985—1990-an ia mengamen dengan membacakan puisi-puisinya di beberapa pub di kota Manado.

Pada tahun 1990-an juga melakukan kegiatan impresario bagi teater jalanan di kota Manado. Ia juga selalu mengikuti gerakan perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan melalui seni.

4) Latar Belakang Kesastraan

Ketertarikan Iverdixon Tinungki kecil dengan dunia sastra dipicu oleh dunia deklamasi ketika ia duduk di sekolah dasar. Sajak yang pertama dia kenal dan selanjutnya menjadi inspirasinya adalah sajak “Tuhanku” karya Chairil Anwar. Sajak “Tuhanku” ini dideklamasikan di banyak gereja di Sulawesi Utara.

Kesukaannya berdeklamasi kemudian berlanjut, ketika duduk di bangku SMP ia mulai menulis sajak-sajak/puisi. Ia selalu mengirim hasil karyanya ke Harian Suluh Merdeka. Sejak dimuat karya-karyanya itu, karya-karyanya mulai dibaca oleh teman-temannya yang tertarik dengan puisi dan karyanya juga mulai dilirik oleh penyair yang sudah mapan pada masa itu. Karya-karyanya mendapat perhatian khusus dari Kamajaya Al Katuuk. Kemampuan kepenyair Iverdixon Tinungki kemudian diasah lagi oleh penyair Kamajaya. Ia kemudian bergabung dengan teater yang dibentuk oleh Kamajaya yang bernama Sanggar Alit Muara.

Pembinaan-pembinaan dari beberapa orang telah menguatkan karya-karyanya. Ia menyebut beberapa orang secara langsung maupun tidak langsung telah membinanya, antara lain: Riantiarno (khusus naskah), Beni Matindas, Eric M.F. Dajoh, Reiner Emyot Ointoe, Richard Rhemrev, dan Wempie Lontoh.

Ipe mengatakan bahwa yang selalu memberikan spirit untuk terus berkarya adalah Prof. Dr. Reiner Carle dari Hamburg University, seorang kritikus sastra Asia Afrika.

5) Karya-karya Iverdixon Tinungki

a. Puisi

(1) Mimbar Penyair Abad 21, Jakarta: Balai Pustaka 1996, antara lain dengan judul: “Sayap Kebebasan Burung-burung”, “Puisi Buat Agnes Conxha di Surga”, “Perjalan Ziarah ke Jakarta”, “J.J.3”, dan “Halaman TIM”.

(2) Sakral, Manado: Alit Muara 1987. Buku ini memuat 30 sajak, yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama Catatan Bumi, dengan judul antara lain: “Sajak-sajak Laut”, “Bukit Romboken”, “Tirani”, “Hujan Sejak Pagi”, “Di Lereng Karangetang”, “Tagulandang”, “Pukul Tiga Subuh di Terminal Bus”, “Sakral”, “Cinta Telah Mati”, “Lukisan”, “Demi”, “Kampung Bingung”, “Pelangi I”, “Pelangi II”, “Sesal”, “Kebosanan”, “Pendakian”, “Gerimis”, dan “Kau”. Bagian kedua Serbuk Kangen, dengan judul antara lain: “Sebuah Tanya”, “Putih”, “Lagu Hasrat Putih”, “Pantai Malam”, “Surat Cinta”, “Kering”, “Dan Kulihat”, “Sarenada Manola”, “Sajak Pinangan”, “Kota”, “Tiba-tiba Kuingin Engkau”, “Surat Buat Kakakku Ina”, dan “Kepada Dia”.

(3) Sasambo: antologi Puisi Enam Penyair, Manado: Forum Komunikasi Seni Budaya Sangihe Talaud 1991. Antologi puisi ini memuat 15 sajak Iverdixon Tinungki. Sajak-sajak yang termuat dalam antologi itu yaitu: “Surga”, “Kreatifitas”, “Simphoni Orang Tercinta”, “Mimpi Pulung-pulung”, “Sajak Buat Pisok”, “Nyanyian Sunyi”, “Dialog Jarod Empat Lima”, “Sajak Tiga”, “Model”, “Cerita Kecil dari Sudut Manado”, “Mesti”, “Impresi”, “Pulang”, “Simphoni”, dan ”Berjaga”.

(4) Surat-surat Sunyi, Manado: Departemen IPAIT 1994. Kumpulan sajak Iverdixon Tinungki ini memuat 72 sajak, antara lain dengan judul: “Nyanyian Sorgawi”, “Freedom”, “Rumah Kontrakan”, “Hening”, “Amsal Puisi”, “Lagu Subuh”, “Syair Sepanjang Jalan”, “Nyanyian Ruh”, “Sajak 15 September”, “Ekspresi”, “Ibadat Tamasya”, “Malerre”, “Ruang”, “Di Lorong Cumi-cumi Cintaku Selalu Terpaut”, “Dialog Penyair dan Tuhan Tentang Abad 20”, “Kesaksian Sang Penyir”, “Sajak Lapangan Kosong”, “Lagu Kuning”, “Firdaus Yang Hilang”, “Hidupku Tak Kan”, “Pikiran-pikiran Kaum Posmo”, “Semadi”, “Menanti Pagi”, “Potret Kita”, “Cerita Kanvas”, “Lagu Senja 1”, “Lagu Senja 2”, “Lagu Senja 3”, “Refleksi Merah”, “Drama Keluarga”, “Drama Kristus”, “Sajak Tentang Bening”, “Dalam Hujan”, “Konfigurasi”, “Menanti Bapak Terjaga”, “Kampung”, “Selingkar Bumi Bogani Yang Kuyu”, “Negeri Jingga”, “Musyawarah Kita”, “Kursi’, “Catatan Politik”, “Kampanye”, “Muka Dua”, “Mau Iklan”, “Dunia Kkita Milik Kita”, “Epos”, “Kado Perkawinan”, “Hilang”, “Lukisan Sunyi”, “Mitos”, “Tragedi Anak Cucu Abraham”, “Suatu Senja di Bawah Pohon Pisang Goroho”, “Sajak Ping Pong”, “Gorong”, “Sajak Sepotong Drama Saat”, “Matahari Mendaki Punggungku”, “Kredo”, “Cermin”, “Reinkarnasi”, “Bongkar Kampung”, “Yang Kuingin”, “Kepada Kawan Seniman”, “Kapan Engkau”, “Kemurnian”, “Sajak Rumah Terbuka”, “Satal”, “Petasan-petasan Akhir Tahun”, “Pepatah”, “Sajak Sepotong Wajah”, “Di Stasiun Sunyi”, “Kerangkeng”, “O Wela”, “Sajak Natal 1991”, dan “Lakon pada Sebuah Panggung Hitam Putih”.

(5) Sajak-sajak Jam Jaga, Edisi Khusus Dokumentasi Kebudayaan bagian kesatu, Manado: Sanggar Kreatif 1997. Kumpulan sajak ini memuat puisi: “Suara di Tengah Puning-puing”, “Apa yang Dapat Lagi Kita Kenang di kota Kita”, “Masih Ada yang Bersimpati Padamu”, “Santa Claus dan Orang Hitam”, “Sajak Ladang dan Kebun”, “Geovana Cossow”, “Perjalanan Ziarah ke Jakarta”, “Indonesia Hari Ini”, “Bila Pertanyaan Berhenti Bertanya”, “Di Gang Bernama Indonesia Raya”, “Sulap-sulapan”, dan “J.J.3”

(6) Sajak-sajak Kelam, Edisi Khusus Dokumentasi Kebudayaan bagian kedua, Manado: Sanggar Kreatif 1997. Kumpulan sajak ini memuat puisi: “Percakapan Kembang Kertas”, “Ruang D”, “Dinamika Pisau Bedah”, “Ada yang Berbisik dari Kenangan”, “Likuidasi Cinta Cinta”, “Rindu dari Ruang ke Ruang”, “Dari Sunyi”, “Waktu yang Berlari”, “Bila Datang Engkau”, “Akankah”, “Kucabuti Rumput-rumput di Hatiku”, “Kukemas Kecemasan”, “Selalu Saja Suster-suster Itu”, dan “Ada yang Diam-diam Menyusup”.

(7) Di Tangan Angin, Manado: Sanggar Kreatif 2001. Kumpulan sajak ini memuat puisi: “Di Tangan Angin”, “Kemanusiaan Manusia”, “Tragedi Anak Abraham”, “Codot”, “Makin Tua”, “Sang Jantan”, “Doa dan Harapan”, “Waktu dan Usia”, “Percakapan Dua Orang Gila Tentang Kegilaan”, “Eskatologi Kehidupan”, “Sebuah Lagu di Senja”, “Bone Datu Maliala”, “Percakapan Sokrates”, “Tentang Keadilan”,”Cinta Abadi”, “Seniman dan Karyanya”, “Kepada Anakku”, “Menjadi Ayah”, “Pemerintah dan Penguasa”, “Sahabat”, “

b. Cerita Pendek

Cerpen-cerpen Iverdixon Tinungki dimuat di beberapa harian di Manado seperti harian Manado Post, Komentar, Suluh Merdeka, Cahaya Siang, Tagonggong, dan Talaud Post. Judul-judul cerpennya yang sempat dipublikasikan oleh media cetak tersebut antara lain: “Rahim”, “Sawakkah”, “Bertemu Datuk”, “Judas”, dan “Majelis Badut Biru Virus”.

c. Novel

Sebuah novelnya diterbitkan bersambung di Majalah Sarwa Bharata Eka dengan judul “Benteng Batumbakara”.

d. Drama

(1) “Raksasa Pemangsa” dalam Antologi Drama Sulawesi Utara

(2) “Bunga Lawa” pernah dipentaskan dalam bahasa Inggris dengan judul “Flower of Lawa”

(3) “Molerre”

(4) “Prof. Dr. Judas Iskariot”

(5) “Malam Putih”

(6) “Kata Mati”

(7) Surat Sunyi Rerumputan”

(8) “Pemberontakan Bahaning Nusa”

e. Karya-karya yang pernah disutradarai

(1) “Molerre”

(2) “Prof. Dr. Judas Iskariot”

(3) “Malam Putih”

(4) “Kata Mati”

(5) “Maria Zaitun”, dramatisasi puisi karya W.S. Rendra

(6) “Dewi Rosa Delima”

(7) “Kapai-kapai” karya Arifin C. Noer

(8) Beberapa naskah karya Misbah

(9) “Aku” dramatisasi puisi Chairil Anwar

(10) “Cintaku Jauh di Pulau”, dramatisasi puisi Chairil Anwar

f. Karya Non-Fiksi

Nazareth”: Sebuah Sejarah Gereja (1990), edisi khusus diterbitkan oleh Gereja GMIM Nazareth, Manado.

6) Pembicaraan Karyanya

Karya Iverdixon Tinungki pernah dibicarakaan oleh Sovian Lawendatu di Manado Post dengan judul tulisan “Mempercakapkan Sajak-sajak Iverdixon Tinungki”, terbit tanggal 24 Januari 1993.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: