I Made Sudiana

Merdeka Gedoan

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:26 am

1) Latar Belakang Keluarga

Merdeka Gedoan lahir di Pulutan, Talaud, 1 Januari 1949. Ia terlahir dari keluarga petani. Ayahnya Tadius Gedoan dan ibunya Johana Mailantang, keduanya almarhum. Masa kecilnya dihabiskan di kampung halaman, Talaud, sampai tamat SMP. Merdeka mulai merantau memasuki masa sekolah lanjutan tingkat atas di Tahuna, selanjutnya bekerja sampai berkeluarga ia tetap tinggal di Manado, tempatnnya merantau. Ia pulang ke kampung hanya untuk bertemu dengan keluarga, pada acara-acara keluarga saja.

Merdeka Gedoan menikahi Anna B. Tijow pada tanggal 6 November 1971. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak. Anak pertama putra, Heince Gedoan lahir tanggal 25 Maret 1973 dan anak kedua putri, Lidya Gedoan lahir tanggal 12 November 1974.

2) Latar Belakang Pendidikan

Medeka Gedoan menjalani masa SD dan SMP di Talaud. Ia tamat SR Masehi Pulutan, Talaud tahun 1961 dan tamat SMP Negeri Beo, Talaud tahun 1964. Selanjutnya ia melanjutkan sekolah ke SPG Negeri Tahuna di Kabupaten Sangihe. Ia menamatkan sekolah SPG-nya pada tahun 1967. Setamat SPG ia melanjutkan di Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP). Jurusan yang diambil di PGSLP, jurusan seni musik. Pendidikannya di PGSLP diselesaikan pada tahun 1969. Tahun 1986 ia memperoleh gelar kesarjanaan (S-1) dari Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas sam Ratulangi, Manado.

Pendidikan nonformal bidang kesastraan dijalani ketika ia menjadi guru bahasa Indonesia di SMP Kartika Chandra Kirana Manado, sejak tahun 1970. Ia juga sering mengikuti penataran dan pelatihan bidang seni sastra yang dilaksanakan oleh Kanwil Depdikbud Provinsi Sulawesi Utara dan Direktorat Kesenian baik di tinggkat daerah maupun tingkat pusat.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Setamat SPG Merdeka Gedoan melamar menjadi guru. Ia diangkat menjadi guru dengan status PNS sejak 1 Juni 1968. Tugas kerja pertamanya di Kabupaten Sangihe Talaud.

Sejak September 1970 ia dipindahkan ke Kotamadya Manado, masih sebagai guru SD.

Tahun 1973 ia mendapat tugas baru di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah Manado Tengah. Tugasnya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ini berlangsung sejak Mei 1973 sampai Februari 1976. Sejak Maret 1976 sampai dengan Februari 1981 ia dipercayakan sebagai Penilik Kebudayaan Kandep Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Manado Tengah. Maret 1981 sampai dengan April 1988 ia menjadi Penilik Kebudayaan Kandep Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Manado Selatan. Kemudian ia diangkat menjadi Kepala Seksi Bina Program pada Bidang Kesenian Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, sejak Mei 1988 sampai dengan September 1991. Berikutnya ia dipercaya sebagai Pembantu Pimpinan paada Seksi Kebudayaan Kandep Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Manado, sejak Oktober 1991 sampai September 1993. Jabatan di diembannya setelah itu adalah Kepala Seksi Kebudayaan pada Kandep Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Manado sejak Oktober 1993 sampai dengan 6 Februari 2001. Jabatan terakhirnya yaitu Kasubdin Program pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Manado, sejak 7 Februari 2001 sampai sekarang.

Selain pekerjaan formal Merdeka Gedoan juga aktif di luar kantor. Tercatat beberapa kegiatan ia jalani sebagai guru, khususnya bidang bahasa dan kesenian.

Sejak tahun 1970 sampai dengan tahun 1974 ia mengajar mata pelajaran Agama Kristen, Bahasa Indonesia, dan Kesenian di SMP Kartika Chandra Kirana Manado. Tahun 1974 sampai tahun 1976 ia mengajar mata pelajaran kesenian di SMP Kristen Eben Haezar Manado. Tahun 1978 sampai tahun 1981 ia mengajar mata pelajaran kesenian di SMA Pioner Manado.

Selain menjadi guru di sekolah Merdeka Gedoan juga sebagai pembina Pramuka di lingkungan Kwarcab Manado sejak tahun 1970 sampai dengan 1988.

Dalam bidang seni tahun 1976 sampai dengan 1991 ia menjadi pelatih/instruktur Koor, Bintang Vokalia, Puisi, dan drama di SD, SMP, SMA/SMK di Provinsi Sulawesi Utara. Ia juga pernah sebagai guru pengajar seni musik di Sekolah Menengah Karawitan Manado pada tahun 1988 sampai tahun 1990.

Jabatan dalam organisasi yang pernah ia alami sebagai berikut.

Sekretaris Umum Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Kotamadya Manado tahun 1978 sampai 1989. Sekretaris Umum Dewan Kesenian Daerah (DKD) Provinsi Sulawesi Sulawesi Utara tahun 1996 sampai 1999. Ketua Umum Dewan Kesenian Daerah (DKD) Provinsi Sulawesi Utara tahun 1999 sampai 2003. Jabatan terakhirnya adalah Ketua Hrian dewan Kesenian daerah (DKD) Provinsi Sulawesi Utara tahun 2003 sampai sekarang.

4) Latar Belakang Kesastraan

Merdeka Gedoan mengenal sastra sejak SD. Ia sering mendengarkan cerita berupa dongeng dan pantun daerah dari kakek dan neneknya. Kegemaran mendengarkan dongeng dan pantun daerah ini menyebabkan ia juga gemar mendongeng dan menyanyikan pantun serta bermain drama ketika masa sekolah dasar itu.

Selain kakek dan neneknya ia juga mempunyai tokoh idola yang selalu memberikan motivasi baginya untuk bersastra. Ketika bersekolah di SMP, guru sastra daerahnya, B. Winowoda dan M. Sumolang selalu menjadi panutannya. Demikian pula ketika bersekolah di SPG, guru kesenian E. Tanimu dan Muhaling adalah orang-orang yang membangkitkan inspirasinya untuk berkesenian. Selama berkesenian yang memberikan inspirasi dalam bekesenian menurutnya adalah Putu Wijaya dan Kasim Ahmad.

5) Karya-karya Merdeka Gedoan

a. Puisi

“Kepidang” tahun 1990

b. Drama

(1) “Lingkambeme”

(2) “Lorong I”

(3) “Lorong II”

(4) “Derita yang Menyelamatkan”

(5) “Pernik Mimpi di Boulevard Square”

(6) “Misteri Tali Batu”

(7) “Sumikolah”

c. Karya-karya yang pernah disutradarai

(1) “Lingkambene”, dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tahun 1991

(2) “Corong I” dipentaskan di Gedung Koni Sulut, Manado, tahun 1999

(3) “Corong II” dipentaskan di Aula Pertamina Cabang Manado, tahun 2000

(4) “Derita yang Menyelamatkan” dipentaskan di Aula Pertamina Cabang Manado, tahun 2002

(5) “9 di Moraya” dipentaskan di Aula Unsrat Manado, tahun 1982

(6) “Sangiang Tuari” dipentaskan di Taman Budaya Sulut, tahun 1984

(7) “Tolong” dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tahun 1989

(8) “Dalang dan Wayang” dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, tahun 1999

(9) “Diri” dipentaskan di Panggung Pertunjukan Rakyat Sulawesi Utara, Manado, tahun 1980

(10) “Dimanakah Engkau” dipentaskan di Gereja Wanea, Manado, tahun 1981

(11) “Dian yang Tak Menyala” dipentaskan di Aula SMP Kartika Chandra Kirana Manado, tahun 1971

(12) “Bunga Kertas” dipentaskan di Panggung Pertunjukan Rakyat, Kantor Penerangan Sulawesi Utara, tahun 1976

(13) “Bukan Meja Hijau” dipentaskan di Panggung Pertunjukan Rakyat, Kantor Penerangan Sulawesi Utara, tahun 1978

(14) “Cermin” dipentaskan di Panggung Pertunjukan Rakyat Manado Tengah, tahun 1980

(15) “Misteri Tali Batu” dipentaskan pada Festival Teater Anak Tingkat Provinsi Sulawesi Utara di Taman Budaya Sulawesi Utara, tahun 1991

(16) “Tertundanya Sebuah Kematian” dipentaskan di Aula Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, tahun 1988

(17) “Kemelut di Ambang Natal” dipentaskan di Aula Gereja Ranotana Weru, Manado, tahun 1982

(18) “Panggilan di Tengah Tantangan” dipentaskan di Aula Gereja Tikala Baru, Manado, tahun 2002

(19) “Detak-detak Suara Hati” dipentaskan di Aula Pertamina Cabang Manado, tahun 2000

(20) “Ia Sudah Bangkit” dipentaskan di halaman Kandep Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Manado, tahun 1994

(21) “Puangkatoanna” dipentaskan di Geding Kesenian Pingkan Matindas, Manado, tahun 1980

(22) “Ekspedisi ke Palungan” dipentaskan di Aula Kanwil Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara, tahun 1989

(23) “Sumikolah” dipentaskan di aula Mapalus, Kantor Gubernur sulawesi Utara, tahun 1994

d. Karya Non-Fiksi

(1) “Rangkuman Pengetahuan Dasar Teater”

(2) “Pedoman Praktis Tentang Teknik Penggarapan dan Penyajian Teater”

(3) “Teater Sulut Antara Kemelut dan Harapan”

(4) “Harapan Ideal Peranan Kesenian Menghadapi Era Globalisasi”

(5) “Pendidikan Kesenian di SMA (Rangkuman Seni Tari dan Teater)”

(6) Pengembangan Seni Sastra di Sulawesi Utara”

(7) “Unsur Teater dan Tari dalam Ibadah”

(8) Kurikulum Muatan Lokal SLTP (Budaya Daerah)”

(9) “Pertunjukan Kesenian”

(10) “Pokok-pokok Pikiran tentang Penggarapan Cerita Rakyat sebagai Seni Pertunjukan”

(11) “Teknik Pengungkapan dalam Tari Kreasi Baru”

(12) “Tari Tradisional dan Penggarapannya”

(13) “Usaha Melestarikan Seni Tradisional dalam Rangka Penanggulangan Pengaruh Negatif Budaya Asing”

(14) “Benda Cagar Budaya (BCB) Mempunyai Arti Penting bagi Kebudayaan Bangsa

(15) “Teater Gereja”

(16) ”Kakikat Puisi”

e. Pembicaraan Mengenai Karyanya

(1) “Teknik Penggarapan Teater Tradisional”, acara Panggung Seni Budaya TVRI Manado, tahu 1978 sampai 1979

(2) “Terjemahan Culture Art Mission”, Manado Post, 31 Juli 1999

(3) “Rendahnya Minat Masyarakat Terhadap Budaya Daerah”, Manado Post, 15 April 2003

(4) “Pengembangan Seni Harus Konstitusional”

(5) “Pengembangan Seni Sastra di Sulut”

  1. pak Gedoan memang patut jadi pedoman, terutama untuk kita yang masih muda!!
    patut mencontoh!!
    hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: