I Made Sudiana

Pitres Sombowadile

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:17 am

1) Latar Belakang Keluarga

Pitres Sombowadile lahir di Manado, 28 Mei 1966. Ia akrab dipanggil Pit. Lahir sebagai anak ketiga dari keluarga sederhana yang hampir tidak punya tradisi sastra, kecuali ayahnya, Salmon Sombowadile, penutur cerita-cerita semacam Kisah Abunawas sebelum anak-anak berangkat tidur. Dari lima bersaudara, Pitres, merasa untuk urusan cerita dia sangat tertarik dan ayahnya memang selalu rajin dengan ceritanya bagi anaknya ini. Masa SD dilalui biasa-biasa saja, kecuali yang diingat adalah semangat petualangannya. Sering dia berangkat ke sekolah dan kembali ke rumah setelah dua atau tiga hari. Dia tetap bersekolah tetapi berangkat dari rumah kerabat, saudara tua bahkan teman-temannya. Maklum memang rumahnya jauh dari sekolah di sebuah perkebunan.

Dalam usia masa-masa SD itu dia sangat gandrung membaca. Semua taman bacaan di bagian utara Manado dimasuki untuk meminjam bacaan terutama cerita-cerita bergambar. Sedangkan untuk dananya didapatkan dari menjual buah-buahan terutama pisang dari kebun. Untuk buku pelajaran juga dibeli dengan menjual pisang, kacang, dan kue yang sebagian dibesarkan dan dibuat ibunya Marantha Caroles. Apa yang dilakoninya tidak dilakoni oleh saudara-saudaranya: Nico Sombowadile (anak pertama), Rafles Sombowadile (anak kedua), Vanny Sombowadile (anak keempat) dan Daendels Sombowadile (anak kelima).

Hidup susah tidak membuatnya kalah berprestasi di sekolah karena itu saat masuk SMP dia masuk kelas A, kelas untuk menampung murid-murid berprestasi dari SD-SD.

2) Latar Belakang Pendidikan

Pitres didaftarkan ibunya bersekolah di SD GMIM XXV Tumumpa, Manado. Sebuah sekolah gereja yang sangat terbatas fasilitasnya. Gedungnya terbuat dari gedeg bambu, tidak berloteng, dan atapnya bocor. Kadang saat tiba di sekolah murid-murid harus membersihkan ruang kelas dari kotoran binatang (anjing dan babi). Tetapi dia menikmati persekolahan penuh dengan petualangan ini. Dia bisa membeli buku pelajaran (cetak) semacam Himpunan Pengetahuan Umum (HPU) dan Buku Persiapan Ebta karangan Rindorindo dari hasil jualan pisang dan kacang keliling kampung.

Sesudah itu masuk SMP Negeri 3 Manado dan menikamati fasilitas sekolah yang memadai. Dia menjadi juara umum sekolah sampai tamat sekolah. Pada masa SMP banyak kegiatan siswa yang diikutinya dan ia mulai menulis puisi, membuat lagu, belajar bahasa Inggris intensif dengan fasilitasi Agus Lumettu. Mulai membaca karya-karya sastra Indonesia dan asing berbahasa Inggris. Ia membaca lebih banyak buku lagi.

Setamat SMP ia melamar sekolah lanjutan atas SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) di Manado, dengan alasan agar bisa segera kerja membantu orang tua. Karena konflik dengan seorang guru, ia diberi nilai buruk oleh guru tersebut. Dia memutuskan pindah sekolah ke SPMA Kr. GMIM Tomohon. Meski bersekolah di sekolah pertanian, tetapi di sela-sela waktu luang ia membaca karya sastra serius dengan meminjam buku dari banyak orang di Tomohon dan ia juga membelinya di Toko Buku GMIM Sion jika cukup uang sisihannya.

Kemudian ia masuk ke Institut Teknologi Minaesa (kini di Tomohon). Meski sempat berprestasi dalam perkuliahan, dia tidak sempat menamatkan karena disibukkan dengan kepercayaan padanya untuk mengelola Majalah Sulawesi Utara di Jakarta, Maesaan, sebagai direktur. Hingga kini kesempatan untuk melanjutkan perkuliahan masih terbuka, soalnya waktunya banyak tersita dengan berbagai kesibukan yang dijalankannya kini. Dalam masa kuliahnya itu ia tercatat pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) ITM.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Setelah selesai SMPA Pitres tidak masuk sebagai pegawai negeri mengikuti teman-temannya, tetapi ia menjadi guru swasta di Paso pada sebuah SMP Kosgoro yang dibangun di sana. Ia menjadi guru untuk hampir semua mata pelajaran, maklum kerena SMP tersebut hanya memiliki tiga orang guru saja.

Sesudah itu ia menjadi pengajar les bahasa Inggris terutama untuk orang yang hendak bepergian ke luar negeri (maklum mereka jelas punya motivasi kuat/harus menguasai bahasa Inggris). Dia juga menerima penerjemahan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Karena kegiatan tulis-menulis ia sudah lakukan sejak masa SMP dan terus dilakukan dalam kesempatan menerjemahkan, maka dia memutuskan akhirnya bekerja sebagai staf khusus (penerjemah) di Harian Umum Manado Post (1987) yang baru saja dibuka kala itu. Semabri itu ia menjadi koresponden majalah Fakta, Surabaya.

Tahun 1987 sudah aktif sebagai relawan pada LSM yaitu Lembaga Bantuan Hukum Manado-Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LBH-YLBHI). Saat kembali di Manado sempat aktif terlibat dalam program-program tidak tetap LBH Manado. Kemudian ia diutus oleh Yayasan Suara Nurani menjadi fellow pada Bank Information Center, Washington DC, USA (1997) untuk mempelajari kebijakan pembangunan Bank Dunia secara umum dan khusus di Indonesia. Sepulang dari sana diangkat menjadi koordinator Badan Pelaksana Yayasan Suara Nurani hingga tahun 2000.

Ia ikut terlibat dalam berbagai jaringan LSM lokal, nasional, regional (Asia) dan internasional. Di antaranya ia sempat menjadi pembicara di beberapa pertemuan LSM internasional. Ia juga pernah menjadi anggota Working Team of NGOs on BIMP-EAGA serta menjadi Sekretaris Eksekutif Indonesian NGOs for BIMP-EAGA (Brunaei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippine East ASEAN Growth Area)

Tahun 1999 ia mulai menerbitkan Mingguan Sosial Politik yang ditujukan untuk menderaskan arus demokratisasi di Sulawesi Utara. Mingguan ini bertahan hingga tahun 2001. Yang tersisa dari media idealis ini hanya tenaga-tenaga bentukannya yang kini aktif di beberapa media cetak dan siar di Manado, Jakarta, Ternate, dan Gorontalo.

4) Latar Belakang Kesastraan

Pitres mulai menulis sejak SMP, barbagai bacaan sastra sudah ia kenal juga sejak masa itu. Masa-masa sekolah di SMPA juga dimanfaatkan dengan membaca buku-buku sastra karena kecintaannya terhadap sastra.

Setelah bekerja di Manado Post ia bertemu dengan Kamajaya Al Katuuk, Reiner Ointue, Iverdixon Tinungki, dan banyak lagi pegiat sastra di Manado. Pergaulan dengan orang-orang yang mempunyai hobi yang sama yaitu sama-sama mengandrungi sastra membuat ia lebih banyak melalap buku sastra baik karya sastra maupun kajiannnya. Pada masa itu ia menerbitkan Antologi Puisi Sasambo dengan enam penyair Sangihe Talaud sebagai upaya melanjutkan semangat Tatangkeng.

Di Jakarta ia berkecimpung dengan kalangan kesenian terutama dengan para pegiat sastra yang berasal dari Manado. Ia mendirikan Balai Teater Jakarta, 1995 bersama dengan Yoshua Pandelaki (mantan pegiat di Teater Koma, Nano Riantiarno), Eric M.F. Dajoh (Teater Populer Teguh Karya), Donna Keles (pekerja agen periklanan di Jakarta), dan Teddy Kumaat (kini wakil walikota Manado) dengan konsen utama yaitu membawa semangat baru kesenian di Manado dengan membuka hubungan komunikasi budaya dengan para seniman di Jakarta.

Pitres juga belajar banyak tentang kesenian pada Remy Sylado dan sempat pentas di beberapa pertunjukan Remy Sylado di beberapa hotel berbintang di Jakarta.

5) Karya-karya Pitres Sombowadile

  1. Puisi

(1) Sasambo: antologi Puisi Enam Penyair, Manado: Forum Komunikasi Seni Budaya Sangihe Talaud 1991. Antologi puisi ini memuat enam belas sajak Pitres Sombowadile. Sajak-sajak yang termuat dalam antologi itu yaitu: “Saat Badai”, “Dialog”, “Eskatologi”, “Solitude”, “Tepekur”, “Akhir Sungguh”, “Perempuanku”, “Kalah”, “Eureka”, “Olive”, “Bulan Biru”, “Nyanyian Kecubung”, “Koridor”, “Requim”, “Bandar”, dan “Katika Magrib”.

(2) Mimbar Penyir Abad 21, Jakarta: Balai Pustaka 1996, antara lain dengan judul: “Sasambo”, “Ikan-ikan di Jakarta”, “Senjakala”, dan “Kenapa Angin Bertiup Kini”.

  1. Cerita Pendek

Beberapa cerita pendek Pitres diterbitkan di Manado Post, Majalah Integral (Jakarta), dan Majalah Sukma (Jakarta). Karya-karya yang pernah terbit tersebut tidak ada lagi arsipnya pada pengarang.

  1. Karya Non-Fiksi

Pitres banyak menulis karya tulis tentang berbagai masalah sosial dan kebudayaan yang ditulisnya di tingkat lokal (Cahaya Siang, Manado Post, Kabar, Komentar, dan beberapa majalah di Jakarta). Untuk masalah sastra ia menulis di harian Republika, Jakarta. Ia juga menerbitkan tulisan pribadi yang dibuat menjadi booklet untuk diedarkan.

  1. Pembicaraan Karyanya

(1) Berbagai tulisan di Manado Post dan Cahaya Siang di antaranya oleh Kamajaya Alkatuuk, Frangky Kalumata, dan Sovian Lawendatu.

(2) Ulasan Sutardji Calzoum Bachri dalam Buku Mimbar Penyair Abad 21.

(3) Ulasan Remmy Sylado, dalam beberapa tulisannya di antaranya dalam buku “9 dari 10 Kata Indonesia adalah Asing”.

  1. Yth. Pak Pitres

    Melalui blog Sitaro, saya telah membaca tulisan bapak mengenai sejarah Raja Siau,dan ada sedikit komentar tentang Charles David sebagai Presiden pengganti Raja.
    Ada beberapa hal yang perlu direvisi yaitu:
    – Charles David meninggal thn 1976, bukan thn 1956
    – Kerajaan negara Siau berakhir bukan karena Charles David
    mangkat, tapi perubahan pemerintahan ketika itu,dan beliau
    kemudian menjabat Wedana Kepulauan Siau-Tagulandang.
    Tahun 1955 – 1958, beliau pindah ke Tahuna sebagai Wedana Tahuna dan kemudian menjadi Bupati Sangihe Talaud.
    Saya ingin kontak dengan D.P.Tick gRMK yang pernah memberi komentar tulisan bapak mengenai topik ini. Bolehkah saya dapat alamat emailnya?
    Apapun juga, saya menghargai dan berterima kasih atas tulisan bapak,karena setelah membacanya,saya tergugah untuk mengenang Charles David dengan segala dedikasinya sebagai abdi negara yang tadinya tak kami perhatikan. Saya adalah cucunya, ibu saya Yuliana Makahanap David adalah anak beliau.
    Demikian komentar saya.

    Bogor,9 Juni 2009

    hormat saya,
    Ansye-Porry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: