I Made Sudiana

Reiner Emyot Ointoe

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:00 am

1) Latar Belakang Keluarga

Reiner Emyot Ointoe lahir di Gorontalo pada tanggal 24 Oktober 1958. Reiner adalah putra kelima dari delapan bersaudara pasangan suami istri Alm. Mohamad Sahi dengan Mintje Makarawo. Ayahnya, Mohamad Sahi, pada masa mudanya adalah seorang pemain dan sutradara tonil di Gorontalo. Beliau juga pernah menerbitkan Tabloid Merdeka. Pada masa hidupnya mendiang ayah Reiner seorang pengurus Palang Merah Indonesia juga bekerja di PT Gapsu (Gabungan Pelayaran Sulawesi Utara). Aktivitasnya di PT Gapsu menyebabkan beliau berkesempatan pergi ke Cina dan Jepang sebagai seorang ahli pelayaran. Beliau juga pernah bekerja di Jepang di bidang pelayaran. Ibunya adalah seorang pensiunan guru.

Reiner memperistri Terry Sigar, seorang gadis Tondano, Minahasa. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak. Anak pertama seorang putra bernama Mohamad Aldin Ointoe, lahir 30 November 1995. Anak kedua, seorang putri bernama Almitra Putri Cahyani, lahir 22 Agustus 1997.

2) Latar Belakang Pendidikan

Reiner mengelami masa SD dan SMP di Manado. Sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dijalani SD dan SMP Muhamadyah Manado. Ia tamat dari SD tahun 1970 dan SMP tahun 1973. Tahun 1977 ia tamat dari SMA Negeri 222 Luwuk, Sulawesi Tengah.

Selanjutnya Reiner melanjutkan ke perguruan tinggi di Sulawesi Utara, yaitu di Fakultas Sastra Universitas Samratulangi, Manado. Ia mengambil jurusan bahasa Jerman. Kuliahnya diselesaikan pada tahun 1985 dengan judul tugas akhir “Perubahan Eksistensi Manusia dalam Novel Verwandlung Karya Franz Kafka”.

Tahun 1990 Reiner mengambil Studi Bahasa dan Sastra Jerman Mutakhir di Ferien Sommerkurs, Universiteit Otto Friedrich, Jerman.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Setelah menamatkan studinya di perguruan tinggi tahun 1985, Reiner diangkat menjadi tenaga pengajar di almamaternya, Jurusan Bahasa Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Sam Ratulangi pada tahun 1986.

Selain bekerja sebagai pengajar di Universitas Sam Ratulangi, ia juga aktif di luar kampus. Tahun 1992—1995 ia dipercaya sebagai koordinator liputan di Harian Manado Post.

Tahun 1995 ia mendirikan Yayasan Serat, sebuah lembaga yang bergerak di bidang advokasi, kebijakan publik, dan pemantauan media masa. Sekarang ia menjabat Direktur Yayasan Serat Manado.

Tahun 1998 Reiner mendirikan Tabloid Kabar. Posisi yang ia tempati ketika itu adalah wakil pimpinan perusahaan dan dewan redaksi, sampai akhirnya ia keluar tahun 2000. Ia pernah aktif di berbagai organisasi sosial kemasyarakatan seperti: Ketua Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Sulut (1988—1999), Sekretaris Lembaga Kajian dan Konsultasi Regional (LAPRIL) Sulut (2000—2007), Ketua WALHI Sulut (2000—2001), Koordinator Media Dewan Reformasi Sulut (1999—2002), konsultasi regional Sulut (1999—2004), Sekretaris Dewan Kesenian Sulut (1998—2003), Anggota Dewan Riset Daerah Sulut(2002—2007), Anggota Masyarakat Ilmu Pemerintah Indonesia (MIPI) Sulut (1997—2003), Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Sulut (2001—2006), Anggota Kajian Pasifik Unsrat, Sulut (1997), dan Anggota Koalisi ORNOP untuk Kebebasan Memperoleh Informasi (KMI), Jakarta (2003—2004). Staf Ahli Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Manado (2003—2004), pernah menjadi Advocacy Team BIMP-EAGA Consorsium for the Coastal Enviroment, Davao, Filipina (1988), Participant for Leadership and Management, ICCR, Bangkok, Thailand (2003), Fasilitator Media Clinic Kebebasan Memperoleh Informasi (KMI), IMPLC-CSSP, Jakarta-Bandung (2003), dan Anggota TIM Kajian Kawasan Andalan dan Pulau-pulau Terpencil, BPTT, Jakarta, Bappeda Sulut-Satal (2000).

Di media Reiner pernah menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Bakawang, Manado, Sulut (2002-2003), Presenter Radio SOL, Manado (1995), Presenter Radio KDFM, Manado (1995), Presenter TVM SMs dPR, Manado (2003), Presenter Pasifik TV, Manado (2004), dan menjadi narasumber dari berbagai media radio dan TV di Manado.

4) Latar Belakang Kesastraan

Reiner mulai aktif menulis sajak sejak mahasiswa (1986). Sajak-sajak terpilihnya dimuat di buku kumpulan puisi Riak Utara, antara lain dengan judul “Aku Kencingi Ladangmu”. Ini adalah langkah pertamanya terus menggeluti bidang tulis-menulis. Atas dorongan seorang dosennya, Ibu Sumarow yang ketika itu mencari mahasiswa yang berbakat menulis, ia mulai banyak menulis. Sayang karyanya tersebut hanya dinikmati sendiri dan tidak sempat dipublikasikan. Pada masa mahasiswa ia juga sudah mulai menulis kritik sastra dan esai. Beberapa kritik sastra dan esainya dimuat dalam terbitan majalah Inovasi, sebuah majalah mahasiswa Unsrat, Harian Cahaya Siang, dan Majalah Spektrum.

Tahun 1995 esai-esainya diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul Intelektulitas dan Kritiik Kebudayaan, yang diterbitkan oleh Yayasan Serat, Manado. Sejak terbitnya buku itu, ia lebih banyak menulis esai. Sebagai seorang dosen, ia juga banyak menulis kritik sastra.

Reiner juga banyak bekerja di bidang sastra. Ia sering terlibat sebagai juri dan pelatih di berbagai bidang kegiatan sastra. Tahun 1990-an ia menjadi juri dan pelatih teater di lingkungan Depdikbud, Taman Budaya, Balai Kajian Jarahnitra, dan Balai Arkeologi di Sulawesi Utara.

Tahun 1990-an juga ketika studi di Jerman ia menulis naskah drama “Janin-janin”. Dalam bidang drama ia banyak dipengaruhi oleh Bertold Brecht, seorang dramawan Jerman. Ia juga banyak membaca naskah Arifin C. Noer dan Riantiarno. Sedangkan gaya dalam menulis ia mengaku banyak dipengaruhi oleh gaya tulisan Gunawam Mohamad dan Mangunwijaya.

5) Karya-karya Reiner Emyot Ointoe

a. Puisi

(1) Riak Utara

(2) OPUS, Manado: Yayasan Serat dan Media Pustaka (2004), antara lain dengan judul: “Akademos”, “Putri Kampus”, “Elastisitas”, “Maket”, “Mayat”, “Zoon (Politikus)”, “Oikos”, “Bios”, “Profesorat”, “Phallus Monolog: Bab Pengantar”, “Phallus Monolog: Bab Satu”, “Phallus Monolog: Bab Dua”, “Phallus Monolog: Bab Tiga”, “Phallus Monolog: Bab Empat”, “Demonstran”, “Opus I”, “Opus II”, “Opus III”, “Opus IV”, “Opus V”, “Opus VI”, “Opus VII”, “Jalur”, “Tentang Sila”, “Tentang Vagina”, “Tentang K”, dan “Tentang Saro”.

b. Drama

(1) “Lonceng Terakhir”

(2) “Hikayat Doktor Rimbas”

(3) “Nyanyian Angsa” adaptasi puisi liris Rendra

(4) Suto Mencari Bapa” adaptasi puisi liris Rendra

(5) “Jaring-jaring”

(6) “Janin-janin”

(7) “Luka Wangsa”

c. Karya-karya yang pernah disutradarai

(1) “Janin-janin” (1990-an)

(2) “Lonceng Terakhir” (1990-an)

(3) Dramatisasi Puisi “Nyanyian Angsa” dan “Suto Mencari Bapa” (1990-an)

(4) “Apolo dari Bellac” karya Jean Giraodox dari Perancis, dibawakan dalam festival teater nasional yang dilaksanakan oleh Depdikbud Bidang Kesenian di Bandung (1996)

d. Karya Non-Fiksi

(1) Intelektual dan Kritik Kebudayaan (Buku, 1995)

(2) Bolaang Mongondow: Etnik, Budaya, dan Perubahan, Pemda Bolmong (Buku, 1996)

(3) Pesona Nyiur Melambai: 50 Tahun Kemerdekaan di Sulut, Pemda Sulut (Buku, 1997).

(4) Manusia di Panggung Sumekola: Biografi Intelektual W.J. Wawroentoe, Unsrat Press (Penyunting, 1997)

(5) Studi Survey Potensi Sosial Budaya Kodya Bitung, Bappeda Bitung (Penelitian, 1988)

(6) Kerja Keras, Kerja Cadas, 14 tahun Kepemimpinan Drs. Sarundajang, Bappeda Bitung (Buku, 1999)

(7) Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Kabupaten Sangihe Talaud (et. al., 2000)

(8) Sitou Timou Tumou Tou: Refleksi Atas Evolusi Nilai-nilai Manusia, karya A. J. Sondakh, (Penyunting, 2003)

(9) Dodandian, Kinotanoban, dan Kisahku, karya J. Damopolii (Penyunting, 2003)

(10) Syamanisme Asal Usul dan Kepercayaan Leluhur Bolaang Mongondow, karya Dr. M.W.M. Hekker (Penyunting, 2004)

6) Pembicaraan Karyanya

Tommy F. Awuy membicarakan karyanya, pada pengantar Antologi Opus.

7) Pengargaan yang Pernah Diperoleh

(1) Rekor Muri, tahun 2004, pembacaan puisi oleh 59 panyair dan pembaca puisi dari Sulawesi Utara: Bitung, Minahasa, Bolaang Mongondow, Sangihe, dan Manado yang dilaksanakan TKB Manado tanggal 17 sampai dengan 19 Agustus 2004 dari pukul 00.00 sampai 11.00 WITA.

(2) Penghargaan Karya Jurnalistik dari Universitas Sam Ratulangi, tahun 1994.

  1. Walau baru ketemu Bung Reiner, tapi saya pernah terkagum-kagum dengan tulisannya di Manado pos, yang kemudian dibukukan dengan judul Intelektual dan Kritik Kebudayaan. Bagi saya, Bung Reiner seorang intelektual Manado yang besar, dengan wawasan amat mendalam. Boleh dikata ia GM-nya Manado, dan Mangunwijaya-nya Manado. Seandainya karya-karya bisa dicetak oleh Gramedia atau Kanisius, maka orang akan kegum membaca ide dan buah pikirnya. Kita beruntung punya seorang Reiner di tengah budaya Manado yang kian meninggalkan jauh dunia kebudayaan. Dan saya hanya mau bilang, Reiner adalah seorang kritikus sastra besar milik Sulawesi Utara saat ini. Ketika masih di Pineleng, saya sangat gemari tulisan-tulisannya. Terima kasih, Bung Reiner, Anda berjasa untuk banyak orang. Karena Reiner adalah Riak Utara itu sendiri. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: