I Made Sudiana

Sovian Lawendatu

In Sastrawan Manado & Karyanya on 19 Juli, 2008 at 5:06 am


1) Latar Belakang Keluarga

Sovian Lawendatu lahir di Kampung Sawang (daerah rawan bencana Gunung Awu), Sangihe, 20 Mei 1968. Ia adalah anak sulung dari enam bersaudara. Ayahnya, seorang petani yang pernah bekerja sebagai Penolong Injil (Penghentar Jemaat) di lingkungan Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST). Ibunya, pensiunan guru sekolah datar.

Sovian Lawendatu mempersunting seorang gadis asal Mapanget, Minahasa, Dra. Femmy Johana Maramis. Pasangan ini dikaruniai dua orang putra. Putra pertama Ignoranta Ars Kreato Lawendatu (Ino) lahir 30 Mei 1995 dan putra kedua Johanis Adrian Sains Lawendatu (Ian) lahir 24 Juni 1998.

2) Latar Belakang Pendidikan

Masa sekolah dasar dijalani Sovian Lawendatu di kampung kelahirannya, Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen, Sawang. SD diselesaikannya pada tahun 1980. Kemudian, Sovian melanjutkan ke SMP Kristen Sawang, diselesesaikan tahun 1983 dan dilanjutkan ke SMA Negeri Tahuna, ditamatkan pada tahun 1986.

Sovian Lawendatu lulus Seleksi Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) di Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi Manado (1986), tetapi tidak diambil karena tidak disetujui oleh orang tuanya. Ibunya menghendaki ia menjadi guru. Akhirnya ia menunda kuliah, tahun 1987 ia mendaftar untuk menjadi mahasiswa di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Manado. Pendidikannya di perguruan tinggi diselesaikan pada tahun 1992, sehingga ia berhak menyandang gelah Sarjana Pendidikan.

Tahun 1990 Sovian menjadi Mahasiswa Berprestasi I FPBS IKIP Manado. Ia menerima Tunjangan Ikatan Dinas (TID), sehingga setelah lulus ia di-CPNS-kan dengan tanpa tes alias bebas “KKN”.

Semasa kuliah ia aktif sebagai pengurus himpunan mahasiswa jurusan dan senat mahasiswa fakultas. Tugas akhirnya Novel Lho dan Keok karya Putu Wijaya telaah dari perspektif Psikologi (Psikoanalisis) Sigmund Freud.

3) Latar Belakang Pekerjaan

Sejak lulus dari perguruan tinggi, sebelum diangkat menjadi guru, Sovian Lawendatu berwiraswasta untuk mengisi hari-harinya dan tentunya ia tidak meninggalkan hobinya menulis.

Tahun 1993 Sovian diangkat menjadi guru di SMP Negeri 3 Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow. Sejak itu ia berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tugasnya sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Pinolosian berakhir tahun 2001. Kemudian ia dipindahkan ke SMA Negeri 1 Bitung. Ia bertugas di SMA tersebut sampai sekarang.

Selain sebagai guru di SMA Negeri 1 Bitung ia juga aktif sebagai pembina sanggar “Cakrawala”, sanggar teater di sekolahnya dan pembina di beberapa sanggar teater di Kota Bitung.

4) Latar Belakang Kesastraan

Pada masa sekolah dasar, Sovian Lawendatu senang mendengarkan cerita-cerita dongeng “Seribu Satu Malam” dari neneknya. Selain itu ia gemar membaca buku-buku fabel dan cerita-cerita anak yang dibawa oleh ibunya dari perpustakan sekolah. Ketika masa sekolah dasar itu pula ia sudah sempat membaca roman Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana, buku Kesusastraan Lama Indonesia yang ditulis oleh Zuber Usman, B.A. Semua buku itu adalah milik ibunya yang semasa itu bersekolah di SGA Tahuna. Sovian mengatakan tentunya pada masa itu dirinya tidak begitu mengerti “isi” buku-buku tersebut. Alhasil, sampai saat ini Sovian masih gemar membaca buku karya sastra dan teori sastra, di samping filsafat, teologia, dan lain-lainnya.

Sovian belajar menulis cerpen dan puisi secara otodidak sejak ia duduk di kelas tiga SMP. Keinginannya belajar menulis timbul setelah ia membaca cerpen-cerpen dan puisi-puisi Leonardo Axsel Galatang di majalah Spektrum (terbitan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara).

Sovian mengaku baru merasa “bisa” menulis cerpen ketika di kelas tiga SMA (1984). Cerpennya ketika itu berjudul “Kabut Hitam Pasti Berlalu” dimuat di rubrik budaya majalah Spektrum, asuhan Leonardo Axsel Galatang. Sejak diterbitkan karyanya itu, gairah menulisnya semakin menggebu. Karya-karyanya dalam bentuk cerpen cukup banyak yang dimuat di “majalah guru SD se-Sulut” tersebut. Sayang sekali, majalah-majalah yang memuat cerpen-cerpennya tidak lagi ditemukan karena kurangnya pendokumentasian.

Masa “subur” penulisan Sovian yang berupa cerpen, puisi, esai, dan kritik sastra adalah ketika masa kuliah di IKIP Manado. Karya-karyanya ketika itu kebanyakan dimuat di rubrik Tambur Budaya, Manado Post (asuhan Leonardo Axsel Galatang) dan Panggung Budaya, Cahaya Siang (asuhan Semuel Muhaling). Sesekali Sovian juga mengirim karyanya ke majalah Sarwa Bharata Eka Polda Sulutteng (asuhan Iverdixon Tinungki).

5) Karya-karya Sovian Lawendatu

a. Puisi

Sasambo: antologi Puisi Enam Penyair, Manado: Forum Komunikasi Seni Budaya Sangihe Talaud 1991. Antologi puisi ini memuat delapan sajak Sovian Lawendatu. Sajak-sajak yang termuat dalam antologi itu yaitu: “Sangihe (perjanjian anak-cucu tagholoang)”, “Gunung Awu Senja”, “Makaampo”, “Di Tepi Lembah Tartaros”, “Mendekap Bayangmu”, “Biduk”, “Kontemplasi Petaka Nuklir”, dan Masempar”.

b. Cerita Pendek

Cerpen Sovian Lawendatu belum pernah dibukukan. Karya cerpennya dimuat di beberapa harian dan majalah yang terbit di Sulawesi Utara, seperti Manado Post, Cahaya Siang, Spektrum (majalah), dan Sarwa Bharata Eka (majalah).

Berikut ini antara lain cerpen yang pernah dimuat dalam media tersebut di atas: “Yudas Iskariot”, “Mimpi”, “Sinterklas”, “Teori”, dan “Kolbog”.

c. Karya Non-Fiksi

Esai-esai dan catatan budaya Sovian Lawendatu sering dimuat di Harian Manado Post. Berikut beberapa catatan budaya yang dimuat dalam beberapa harian:

(1) “Perihal ‘Eskatologi’ Pitres”, terbit di Harian Telegraf , 16 Desember 2000

(2) “Seruan dari Pulau Lembeh: Bertobatlah…, Kerajaan Sorga Sudah Dekat”, terbit di Harian Telegraf, Maret 2001

(3) “Iver, Agus, Pitres, Semuel: Bertobat Lewat Sajak”, terbit di di Harian Telegraf, April 2001

(4) “Fenomena Sosial dalam Sajak Alfeyn Gilingan”, terbit di Manado Post, 6 Maret 2002

(5) “Pertobatan dan Hugelisasi Iverdixon Tinungki”, terbit di Manado Post, 9 Maret 2002

(6) “Kasih dalam Perspektif Universalitasnya” terbit di Manado Post, 25 Maret 2002

(7) “Perihal Teater Kolosal Itu”, terbit di Manado Post, 12 April 2002

(8) “Lomba Baca Puisi Apresiatif-Teaterikal” terbit di Manado Post, 13 November 2002

(9) “Penyajak Kita dan Budaya Moyangnya” terbit di Manado Post, 13 November 2002

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: