I Made Sudiana

Manusia Makhluk Bicara

In Bahasa on 13 Oktober, 2008 at 12:18 am

Di antara sekian banyak makhluk hidup di dunia, manusia dianggap makhluk hidup tertinggi. Hanya manusia yang mempunyai bahasa dengan kecakapan berbahasa. Kebudayaan manusia berkembang dan dapat diwariskan karena peranan bahasa ini. Aspek bahasa yang terpenting adalah berbicara

Berbicara yang dapat disejajarkan dengan istilah bahasa Inggris speaking adalah perbuatan manusia untuk menghasilkan bahasa dalam berkomunikasi.

Berkomunikasi adalah hubungan seseorang atau kelompok orang dengan orang lain melalui media tertentu, dalam konteks ini media itu adalah wicara.

Berbicara merupakan kegiatan berbahasa yang paling purba, jauh mendahului peradaban manusia dalam aspek lain. Oleh karena itu, berbicara atau bahasa lisan atau oral sering dianggap dan diakui sebagai hakikat inti dari kegiatan berbahasa.

Berpikir dan Berbicara

Ada garis penghubung yang menyalurkan antara berpikir dan berbicara.

Ungkapan bahasa Bali “konden makeneh suba ngomong” ‘belum berpikir sudah berbicara’ mengungkapkan cerobohnya seseorang berbicara, berkesan kurang baik.

Ungkapan itu mengandung maksud bahwa sebaiknya kalau orang berbicara direnung, dipikirkan baik-baik terlebih dulu, lalu setelah merasa bahwa pemikiran itu matang dan beralasan, barulah diungkapkan dalam wujud pembicaraan. Sejalan dengan ungkapan itu ada pula pemeo, gagasaran tindak kuangan daya, yang artinya ‘lebih cepat tindakannya dibandingakan dengan berpikirnya’. Hal ini juga mengisyaratkan agar di dalam melakukan segala sesuatu berpikirlah baik-baik, kemudian baru dilaksanakan. Tanpa teknis berpikir demikian, akan sering terjadi kecerobohan berbicara atau bertindak dalam bentuk yang lain.

Berdasarkan pada ungkapan masyarakat Bali yang kebanyakan pemeluk Agama Hindu di atas, jelaslah bahwa dalam Agama Hindu dan di dalam masyarakat Bali khususnya, secara ideal diharapkan berpikir baik-baik dulu, sebelum berbicara, agar pembicaraan yang disampaikan baik dan benar pula.

Kenyataan itu sebenarnya mengacu kepada hubungan antara berpikir dan berbicara terjalin satu kaitan yang erat. Orang yang daya pikirnya dan daya penalarannya baik, sepertinya pembicaraannya baik pula.

Hubungan pikiran dan berbicara sebenarnya merupakan lahan bagai ahli-ahli psikolinguistik yakni suatu studi yang mempelajari keadaan pikiran dan kejiwaan seseorang dikaitkan dengan kebahasaannya. Di dalam karya Chomsky (1957, 1963) juga disinggung tentang kemampuan batin linguistik (compentence) dan kemampuan berbicara atau penampilan linguistiknya (porformance). Kompetensi dan performansi ini, berkaitan pula dengan hubungan pikiran dan bahasa atau berbicara, walaupun tidak sepenuhnya identik, tetapi banyak persamaannya.

Manusia dan Bakat Berbicara

Dilahirkan sebagai makhluk manusia, sebenarnya merupakan rahmat tertinggi yang diberikan oleh Tuhan. Mengapa? Karena manusia diberi berbagai bakat oleh Tuhan Yang Maha Esa. Bakat yang paling penting adalah bakat berbahasa karena dari bakat ini kemudian akan berkembang menjadi daya kreativitas dan daya budaya yang sangat mengagumkan dalam perkembangan manusia lebih lanjut.

Di dalam pustaka Sarasamuccaya telah dinyatakan bahwa kelahiran sebagai manusia seyogyanya dapat disyukuri, walaupun seandainya dalam keadaan yang kurang normal. Sebab kesempatan hidup sebagai manusia, akan mampu memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat sebelumnya dan mendapat kesempatan untuk menyiapkan kehidupan yang lebih baik, baik pada masa kini, maupun pada kehidupan nanti.

Di antara makhluk, hanya manusia berbicara dalam arti yang sebenarnya. Pernyataan ini dimaksudkan bahwa gorila atau simpanse, bisa diajak dan diajari berbicara, tetapi hanya dalam batas jumlah kosa kata tertentu. Dan simpanse tidak mempunyai daya kreativitas bahasa atau berbicara.

Kerja sama yang baik, mudah dan efektif, dilakukan oleh kebanyakan umat manusia melalui bahasa. Kadar bakat berbahasa yang diberikan oleh Tuhan harus dipupuk dengan baik oleh setiap orang agar menghasilkan phala (buah) karma (perbuatan) yang gemilang. Hasilnya menurut agama Hindu tidak mesti dinikmati pada kehidupan yang akan datang, tergantung rahmat Tuhan. Di dalam agama Hindu, dikenal adanya tiga macam karmaphala yakni sebagai berikut.

(1) Sancita Karmaphala yakni hasil perbuatan yang tersisa dahulu masih harus dinikmati pada kehidupan sekarang.

(2) Prarabda Karmaphala yakni hasil perbuatan yang dilakukan masa kini, sekarang juga dinikmati, tidak tersisa sedikit pun dalam kehidupan nanti.

(3) Kryamana Karmaphala yakni hasil perbuatan yang dilakukan pada kehidupan masa kini, hasilnya akan dinikmati pada kehidupan masa mendatang.

Berdasarkan pola pemikiran seperti itu, maka setiap bakat berbicara yang dimiliki oleh setiap individu, seolah-olah tidak membawa hasil yang tidak sesuai dengan harapan manusia. Karena hasilnya Tuhan yang akan mengatur, apakah hasilnya akan dapat dinikmati segera atau lama? Memang dinyatakan dalam buku Bhagavadgita sebaiknya setiap manusia tidak terikat pada hasil pekerjaannya, harus penuh pengabdian (dedication) dan hasilnya tiga macam bakat berbicara, yaitu sebagai berikut.

(1) Bakat berbicara yang tinggi. Orang yang mempunyai bakat ini dengan tidak begitu bekerja keras untuk berlatih berbicara, dia sudah mempunyai keterampilan yang baik dan penuh kreativitas dalam berbicara. Bicara ringan, mudah, menarik dan vokalnya penuh wibawa.

(2) Bakat berbicara yang menengah. Orang yang mempunyai bakat seperti ini masih perlu banyak berlatih agar mempunyai keterampilan berbicara yang cukup baik.

(3) Bakat berbicara yang rendah. Orang yang mempunyai bakat seperti ini banyak menemui kesulitan dalam berbicara. Kemungkinan orang yang bersangkutan sedikit gagap, sehingga kalau berbicara terasa kurang mempunyai kemampuan diri dan bisa berakibat rendah diri. Walaupun orang ini sungguh-sungguh berlatih berbicara, namun hasilnya tidak begitu kelihatan.

Rahasia di Balik Kata

Rahasia di balik wicara hampir meliputi seluruh aspek kehidupan. Selain menggambarkan pekerjaan, daerah asal, watak, kelas sosial, lingkungan hidup, wicara juga membuka rahasia kegemaran, keadaan kejiwaan, cita-cita, umur, jenis kelamin, kadar religi, pandangan hidup, filsafat hidup, dan lain sebagainya.

Ben Johnson mengatakan, “Bahasa adalah yang paling memperlihatkan manusia, bicaralah, supaya aku mengetahuimu.”

Orang-orang yang pendiam, kurang berbicara, akan sulit diterka bagaimana sesungguhnya pendidikan, pengalaman, sopan santun, kelas sosial, watak, dan kepribadiannya.

Ditinjau dari sudut religus spiritual orang pendiam itu dianggap lebih bagus. Alasannya adalah sebagai berikut.

1) Orang pendiam, akan sedikit mengeluarkan tenaga (energi) sehingga akan irit tenaga dan sangat mungkin lebih sehat. Di dalam agama Hindu disarankan agar irit pada tenaga (Don’t waste your energy).

2) Orang pendiam, akan lebih sedikit melakukan kesalahan bicara, makin banyak bicara, makin banyak kemungkinan salah bicara.

3) Orang pendiam, tidak banyak mengganggu teman di sekitarnya.

Dengan demikian, orang pendiam itu sering diberi julukan:

diam itu emas

diam itu Tuhan

diam itu obor

Sumber: Berbicara dalam Sastra Hindu (Tinjauan Religiososiolinguistik) karya Prof. Dr. I Wayan Jendra, S.U.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: